Kumpulan cerpen berkisar tentang tragedi 1965.

Kartunis, GM Sudarta luncurkan kumpulan cerpen

Kartunis, GM Sudarta luncurkan kumpulan cerpen
Kartunis yang meluncurkan cerpen. ( Foto: planetmole )
Kamis, 29 September 2011 | 00:17 WIB
Kumpulan cerpen bertajuk 'Bunga Tabbur Terakhir'berkisar tentang tragedi 1965.

Geradus Mayela (GM) Sudarta mengatakan kumpulan cerpen perdananya bertajuk 'Bunga Tabur Terakhir' itu mencoba menuturkan sejarah kelabu persistiwa 1965 atau dikenal dengan G30S.

Melalui pengamatan, pengalaman, dan investigasi terhadap para korban kekerasan peristiwa 1965 di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Menurut Sudarta, kumpulan cerpen ini berupaya merekonstruksi peristiwa 1965, yang diduga direkayasa sedemikian rupa oleh rezim Orde Baru.

"Korban kekerasan tragedi 1965 di Klaten harus mengalami kenyataan pahit karena mereka terus mendapatkan stigma buruk. Saya ingin menyampaikan fakta dan sisi kemanusiaan," katanya hari ini di kantor AJI Yogyakarta.

Ia mencontohkan dalam kumpulan cerpen tersebut seorang gadis bernama Sum menjadi korban kekerasan seorang lurah, yang memasukkan ayah Sum ke dalam daftar orang yang tersangkut G30S.

"Sum yang bukan komunis menjadi korban kebejatan manusia. Ada banyak pengalaman lain yang dialami korban dengan kisah masing-masing dalam buku ini," katanya.

Dia mengatakan buku setebal 156 halaman terbitan Galangpress itu merupakan bagian dari pengalaman batin manusia, yang tidak hanya bisa disampaikan lewat media lukisan.

"Saya merasakan ada sisi kehidupan tertentu yang lebih cocok disajikan dalam bentuk cerpen ketimbang menggunakan kartun atau lukisan," kata Kartunis ini.

Menurut dia, peristiwa 1965 yang direkayasa menimbulkan banyak kecurigaan sehingga perlu usaha untuk merekonstruksi ulang kebenaran sejarah, yang hingga kini belum terungkap.

Dia mengatakan untuk mengungkap peristiwa sejarah membutuhkan proses panjang dan tidak mudah karena orang yang berkaitan dengan PKI secara langsung maupun tidak selama ini selalu mendapatkan stigma buruk.

"Pemerintahan saat ini semestinya bertanggung jawab untuk mengungkap fakta sejarah yang sebenarnya terjadi atau melakukan rekonsiliasi," kata penulis film Oom Pasikom ini.

Sudarta berharap melalui buku tersebut masyarakat menjadi lebih berpikiran terbuka untuk merekonstruksi sejarah dan menggali sisi kemanusiaan dari tragedi 1965.

Sementara itu, pembahas buku itu, Hairus Salim mengatakan salah satu penyebab stigma buruk yang melekat pada korban peristiwa 1965 adalah pemutarbalikan sejarah, terutama yang diajarkan dalam buku-buku sejarah di sekolah.

Menurut dia, kondisi tersebut berbahaya bagi persepsi masyarakat karena mereka menganggap eks atau mantan tahanan politik maupun simpatisan PKI sebagai pihak yang sepenuhnya bersalah.

Oleh karena itu, masyarakat harus berani bersikap kritis terhadap penjelasan sejarah dari teks-teks resmi pemerintah.

Dia mengatakan salah satu bentuk perlawanan terhadap pemutarbalikan sejarah adalah melalui penulisan kisah korban kekerasan peristiwa 1965.

Hairus mengatakan saat ini semakin banyak bermunculan tulisan yang berkaitan dengan
peristiwa 1965, seperti Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

"Tulisan-tulisan dalam bentuk novel maupun cerpen akan memperkaya pemahaman pembaca sehingga
mereka sedikit demi sedikit mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi," pungkasnya.
Sumber: Antara
CLOSE