Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberi sambutan sebelum membuka diskusi hukum di Jakarta, Jumat (10/2).
'Megawati Anak Putra Sang Fajar' tak berprentensi layaknya buku sejarah atau biografi.

Pengalaman hidup Presiden Kelima RI,  Megawati Soekarnoputri, dinilai mampu menjadi cermin bagi setiap  pemimpin maupun calon pemimpin Indonesia untuk menghadapi situasi rentan  dan situasi ketidakpastian negara.

Hal itu disampaikan Wiryanti  Sukamdani, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perempuan dan Anak, di  sela-sela peluncuran buku 'Megawati Anak Putra Sang Fajar', di Hotel  Sahid, Jakarta, Kamis (16/2).

"Ibu Megawati tidak hanya anak biologis Bung Karno tapi juga sekaligus anak ideologis. Apalagi di tengah  kegamangan idelogis dan krisis kepemimpinan yang kering ideologi.  Diharapkan buku ini bisa dibaca dan menjadi referensi," ujar Yanti.

Yanti menyatakan isi buku 'Megawati Anak Putra Sang Fajar' memang tidak berprentensi menghadirkan karya itu sebagai semacam buku sejarah atau biografi.

Namun menurutnya lebih menjadi sebuah cermin berbagai pembacanya dalam melihat perjalanan hidup serta perjuangan seorang pemimpin seperti Megawati dengan perspektif yang lebih utuh, luas, dan  mendalam, kata Yanti.

"Integritas, ketegasan, kekokohan dan  konsistensi Megawati niscaya menjadi contoh yang positif tentang  keharusan seorang pemimpin menyikapi kondisi bangsa," kata Yanti.

Dia  melanjutkan mencontoh sikap Megawati itu menjadi semakin penting mengingat kondisi negara yang kian menjauh dari spirit Pancasila, Pembukaan UUD 1945, meredupnya semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan  tergerusnya kedaulatan NKRI dalam beberapa aspek.

"Pengalaman dan pemikiran Bu Mega dapat dijadikan pelajaran untuk merespon situasi kebangsaan dan kenegaraan kita," tuturnya.

Yanti  memang menjadi orang yang mengusulkan penulisan buku itu. Dia mengaku  awalnya penulisan itu disebabkan pertanyaan yang muncul di benaknya tentang kharisma dan aura Soekarno dalam diri Megawati.

Selain itu, kata Yanti, dirinya ingin mengetahui sejauh mana pemikiran Soekarno hadir dalam pergulatan hidup Megawati.

"Buku ini juga berisi semacam human story, tentang pribadi dan hidup Megawati, karena banyak yang ingin mengetahuinya," kata Yanti.

Gagasan Yanti itupun ditindaklanjuti dengan tim penulis yang dikoordinasikan oleh Wartawan Senior Harian Kompas, August Parengkuan, yang juga menjadi penyunting akhirnya.

Isi buku itu membeberkan kisah hidup Megawati termasuk saat dirinya terjun ke dalam politik, kepemimpinan Megawati di mata sahabatnya, soal alasan Megawati sering diam termasuk ketika menghadapi SBY, hubungannya dengan Soekarno, hingga intisari  pemikirannya.

Buku yang diluncurkan oleh Yayasan Bunga Pertiwi itu juga menuturkan pandangan sejumlah pejabat, politisi, birokrat, hingga wartawan, soal Megawati.

"Ada lebih dari 50 orang dari berbagai kalangan yang menyampaikan tuturan maupun tulisannya melalui buku ini," kata Yanti.

Penulis: