Pebulutangkis ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan - Hendra Setiawan, juara ganda putera Djarum Indonesia Open 2013 di Istora Senayan, Jakarta.

Jakarta - Tim Indonesia kini tengah bersiap menghadapi Kejuaraan Dunia 2013 yang akan digelar di Guangzhou, Tiongkok pada 5-11 Agustus mendatang. Menghadapi ajang bergengsi itu, Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) mencanangkan tim “Merah Putih” mampu membawa pulang dua medali pada nomor ganda putra dan ganda campuran. Di ganda putra, pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan akan menjadi andalan. Sementara Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir akan menjadi tumpuan di nomor ganda campuran.

Target tersebut dirasa realistis karena kedua pasangan itu kerap menyumbangkan medali para kejuaraan super series. Ahsan/Hendra menjadi jawara di Indonesia Open 2013, sedangkan Tontowi/Liliyana berhasil mempertahankan gelar juara mereka di All England 2013.

Namun, target berbeda diberikan kepada tiga nomor lainnya, yakni tunggal putra, tunggal putri, serta ganda putri. PBSI enggan memberikan target juara kepada pemain di tiga nomor tersebut karena beratnya persaingan.

“Kita memang belum bisa terlalu berharap dari tunggal putra dan putri. Kita tidak menargetkan yang muluk-muluk tapi berharap yang terbaik saja. Namun, beberapa pemain seperti Tommy Sugiarto sudah menunjukkan kemajuan yang bagus,” ujar Ketua Umum PBSI Gita Wirjawan dalam acara buka puasa bersama keluarga besar PBSI dan pelepasan tim ke Kejuaraan Dunia 2013 di Jakarta, Senin (29/7) malam.

Kesempatan Tontowi /Liliyana untuk bisa meraih medali emas di ajang tahunan ini cukup terbuka. Pasalnya, dari hasil undian, pasangan unggulan ketiga itu tidak akan bertemu lawan tangguh seperti pasangan Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dan pasangan Tiongkok Xu Chen/Ma Jin. Keduanya berada di pool berbeda dan diperkirakan tidak akan bertemu Tontowi/Liliyana sebelum babak semifinal.

Bagi pasangan Ahsan/Hendra, hasil undian yang didapat juga cukup menguntungkan. Di babak pertama, mereka akan menghadapi pasangan Jerman Ingo Kindervater/Johannes Schoettler. Jika berhasil melaju, Ahsan/Hendra yang diunggulkan di tempat keenam ini akan bertemu ganda unggulan lainnya Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin dari Taiwan. Jika berhasil melewati babak kedua, mereka kemungkinan besar akan bertemu unggulan pertama Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae asal Korea di babak ketiga.

“Kita targetkan juara. Ahsan/Hendra ada peningkatan dibanding Indonesia Open. Mereka saat ini lebih bagus lagi. Kalau di Indonesia Open masih banyak melakukan kesalahan. Tapi, sekarang lebih stabil, tenang, matang, dan tidak (bermain) terburu-buru. Mudah-mudahan puncaknya ada di Kejuaraan Dunia nanti,” ucap pelatih ganda putra Pelatnas PBSI Cipayung, Herry IP.

Mantan pebulutangkis nasional Taufik Hidayat menilai kesempatan Indonesia untuk meraih medali saat ini memang berada pada nomor ganda putra dan campuran. Namun, kans lain juga bisa diraih dari tunggal putra pada diri Hayom Rumbaka dan Tommy Sugiarto. “Khususnya Tommy, kalau ia bisa stabil, seharunya di sini (Kejuaraan Dunia) ia bisa juara. Tidak usah lihat lawan siapa. Kalau punya mental juara pasti semua bisa dikalahkan,” ucap Taufik yang menjadi juara dunia pada 2005 silam.

Indonesia mengirimkan 28 pebulutangkis untuk bertarung di arena Kejuaraan Dunia tersebut. Dari ke-28 atlet itu, terdapat empat atlet tunggal putra yaitu Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Tommy Sugiarto, dan Diosynius Hayom Rumbaka, kemudian empat atlet tunggal putri yaitu Linda Wenifanetri, Aprilia Yuswandari, Belaetrix Manuputty, dan Adriyanti Firdasari.

Di nomor ganda putra, Indonesia menurunkan Mohammad Ahsan-Hendra Setiawan, Ryan Agung Saputro-Angga Pratama, Markis Kido-Alvent Yulianto, dan Hendra Aprida Gunawan-Yonathan Suryatama Dasuki. Sedangkan, pada nomor ganda putri Pia Zebadiah-Rizki Amelia Pradipta dan Gebby Ristiyani Imawan-Tiara Rosalia Nuraidah. Sementara, di nomor ganda campuran Indonesia menurunkan duet Liliyana Natsir-Tontowi Ahmad, Muhammad Rijal-Debby Susanto, Fran Kurniawan-Shendy Puspa Irawati, dan Riky Widianto-Richi Puspita Dili.

Penulis: H-16

Sumber: Suara Pembaruan