Soal Tim Ganda Putra Pelatnas, Ini Kata Herry Iman

Pelatih bulu tangkis ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi. (PBSI)

Oleh: / JAS | Minggu, 18 Juni 2017 | 18:22 WIB

Jakarta - Kepala Pelatih Ganda Putra PP PBSI Herry Iman Pierngadi bercerita mengenai kondisi tim ganda putra pelatnas saat ini. Mulai dari hasil di BCA Indonesia Open Super Series Premier 2017 atau Indonesia Terbuka hingga target di SEA Games 2017.

Apa komentar Herry soal Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang membuat kejutan dengan melesat ke babak semifinal pertama mereka di turnamen premier? Lalu bagaimana dengan penampilan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi yang dinilai menurun hingga harus kalah dari Fajar/Rian yang merupakan junior mereka?

Herry juga mengungkapkan alasan mengapa tiket Kejuaraan Dunia 2017 jatuh ke tangan Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro. Simak petikan wawancara bersama Herry di JCC Plenary Hall.

Bagaimana komentar Anda mengenai hasil tim ganda putra di Indonesia Terbuka 2017?
Dari awal memang ganda putra ditargetkan juara, karena ada momennya Marcus (Fernaldi Gideon)/Kevin (Sanjaya Sukamuljo) yang peringkat satu dunia. Tetapi ada kendala karena Kevin cedera. Memang kami tidak boleh hanya mengandalkan satu pasangan saja, masih ada yang lain.

Fajar/Rian di semifinal tidak tampil maksimal, malah menurun. Ini jadi PR buat kami. Fajar/Rian adalah pasangan muda, memang ini regenerasi next level setelah Marcus/Kevin. Fajar/Rian juga sudah mampu melampaui target awal kejuaraan ini yang awalnya perempat final.

Fajar/Rian sempat mengatakan di game ketiga fisiknya berkurang, apa komentar Anda?
Orang banyak yang salah pemahaman soal fisik yang dimaksud, di sini maksudnya adalah muscle power (kekuatan otot). Di tunggal dan ganda pun berbeda. Fajar/Rian memang harus meningkatkan muscle power mereka, mereka masih muda, butuh muscle power yang lebih lagi.

Kekurangan Fajar/Rian kalau melawan pasangan kelas dunia, di game pertama menang, kalau sampai game ketiga menurun. Mungkin sekitar tahun depan bisa kelihatan peningkatan power-nya, memang butuh waktu. Karena untuk menambah muscle power harus lewat latihan beban, dan ini tidak bisa ekstrim, kalau dipaksakan risikonya bisa cedera.

Bagaimana soal Angga/Ricky yang belakangan penampilannya stagnan?
Menurut saya, Angga/Ricky tidak stagnan, malah menurun. Belakangan ini cara main dan pola mainnya tidak berkembang. Mereka seharusnya kemarin tidak boleh kalah dari Fajar/Rian. Mereka sudah dilewati dua juniornya, Marcus/Kevin dan Fajar/Rian

Saya sudah memberi warning (peringatan) kepada Angga/Ricky untuk berubah. Berubah di sini artinya motivasinya ya, kalau program latihan sih mereka mengikuti, tetapi saya bilang bahwa ini jangan cuma dijadikan rutinitas.

Mereka sekarang peringkat kedelapan dunia, tetapi tidak mencerminkan pasangan yang ada di peringkat kedelapan. Harus ada motivasi lebih, dong? Apa enggak malu? Bangkit lah, kalau enggak bangkit ya, selesai. Kita lihat sampai Kejuaraan Dunia 2017, apakah masih bisa dipertahankan atau harus bercerai (dipisahkan).

Apa target Angga/Ricky di Kejuaraan Dunia 2017?
Saya tidak akan melihat hasil di kejuaraan itu, tetapi saya akan lihat cara mereka bermain. Menang itu ada unsur luck (keberuntungan) juga, tetapi yang penting cara mainnya itu bagaimana.

Ada pertimbangan khusus mengapa Anda memilih Ahsan/Rian ke Kejuaraan Dunia 2017 dan bukan Fajar/Rian?
Kejuaraan Dunia 2017 waktunya bersamaan dengan SEA Games 2017. Menurut PBSI dan Kempora, dua event ini sangat penting, kami tidak bisa turun dengan kekuatan penuh di Kejuaraan Dunia dan SEA Games dilepas.

Jadi saya diminta untuk membagi kekuatan, setelah berhitung, saya tahu medali emas SEA Games tidak boleh lepas. Kalau Fajar/Rian ke Kejuaraan Dunia, mereka bisa menambah pengalaman dan jam terbang, tetapi kalau mereka ke SEA Games, Fajar/Rian bisa berkontribusi untuk Indonesia.




Sumber: Badminton Indonesia
ARTIKEL TERKAIT