Pasangan Tontowi Ahmad/Mohammad Ahsan
“Bebannya pasti besar".

Jakarta
- Mohammad Ahsan akhirnya bisa bernapas lega. Penantian panjangnya sejak bergabung dengan pemusatan latihan nasional Cipayung tujuh tahun lalu terbayar sudah.

Sebuah gelar Superseries menyudahi kerinduannya akan gelar turnamen di level tertinggi yang tidak dapat diraihnya selama berpasangan dengan Bona Septano, mantan pasangan ganda putranya.

Bersama pasangan sekaligus seniornya saat ini, Hendra Setiawan, Ahsan merebut gelar juara Malaysia Open pekan lalu setelah mengalahkan pasangan Korea, Lee Yong Dae/Koo Sung Hyun di babak final.

“Akhirnya pecah telor. Ini gelar juara Superseries pertama bagi saya. Semoga ke depannya lebih baik lagi,” kata pemain kelahiran 25 tahun silam ketika ditemui di pemusatan latihan nasional Cipayung, Selasa (22/1).

Dan tantangan untuk mencapai harapan itu hadir lebih cepat bagi Ahsan dimana All England akan digelar kurang dari dua bulan lagi. Ahsan/Hendra diharapkan bisa mengantongi gelar juara back-to-back di turnamen bulutangkis tertua di dunia itu oleh Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Atas target yang diberikan PBSI, Ahsan mengaku merasakan beban yang ditanggung di pundaknya, namun dia mengaku siap menjawab tantangan itu.

“Bebannya pasti besar, tapi bisa dibagi dengan Hendra karena dia juga belum pernah juara All England. Itu menjadi motivasi tersendiri untuk dia,” tambah Ahsan.

Ketua Umum PBSI Gita Wirjawan berharap Indonesia bisa mempertahankan gelar juara All England yang tahun lalu dipersembahkan oleh pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Gelar tersebut sekaligus mengakhiri absen gelar selama 33 tahun sejak Christian Hadinata/Imelda Wigoena keluar sebagai juara tahun 1979.

Pelatih Tim Ganda Putra, Herry Iman Pierngadi mengaku tertantang untuk menjawab hal itu sekaligus mengikuti jejak tim ganda campuran.

“Targetnya ingin juara All England dari mereka, meskipun realitasnya pasti setelah draw keluar. Karena kita sendiri punya juara All England terakhir tahun 2003, yaitu Candra Wijaya dan Sigit Budiarto,” papar Herry.

Meski pasangan ini membawa harapan baru, masih banyak sisi yang harus diperbaiki mereka untuk meningkatkan penampilan di All England nanti.

“Karena tentu saja peta persaingan makin ketat di nomor itu,” kata Kepala Sub Bidang Pelatnas Christian Hadinata.

Namun Christian yakin sebagai pemain senior yang sudah berpengalaman, mereka mampu terus berkembang ke depannya.

Untuk itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Rexy Mainaky siap memberikan program latihan intensif kepada mereka dan para pemain yang akan bertanding di All England, termasuk menjadikan Liga Nasional Djarum Superliga Badminton bulan depan sebagai bagian dari persiapan.

Penulis: /FMB