Pebulutangkis ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad (kiri) dan Liliyana Natsir.
Pesta kembang api memeriahkan penutupan SEA Games XXVI di Jakabaring Sport City, Palembang.
Catatan olahraga tanah air tahun ini memperlihatkan adanya penurunan menyolok di prestasi bulutangkis, di luar 'hiruk-pikuk' penyelenggaraan SEA Games XXVI yang mirisnya juga mencatatkan kasus hukum (suap Wisma Atlet).

Prestasi bulu tangkis Indonesia mendekati titik nadirnya pada tahun 2011 ini. Jika dulu Indonesia bisa membanggakan bulutangkis sebagai cabang olahraga yang bisa membawa nama bangsa di kancah internasional, hal yang sebaliknya justru terjadi nyaris di sepanjang tahun 2011.

Nyaris sedikit sekali prestasi yang ditorehkan oleh para pebulutangkis Indonesia di kancah internasional kali ini. Dari 12 Super Series yang digulirkan sepanjang tahun, Indonesia hanya meraih dua gelar saja lewat pasangan ganda campuran Tantowi Ahmad/Lilyana Natsir. Kedua gelar itu berhasil diraih Tantowi/Lilyana di India Super Series serta Singapura Super Series.

Tragisnya, saat Indonesia menggelar Super Series Premier, Juni lalu, tak satupun gelar mampir ke pebulutangkis tuan rumah.

Kisah sedih lainnya adalah pada penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2011. Pada kejuaraan yang digelar di Wembley, tempat di mana Olimpiade 2012 bakal dilangsungkan untuk cabang bulu tangkis itu, tak satupun gelar yang berhasil didapat pebulutangkis kita. Prestasi terbaik pebulutangkis Indonesia pada kejuaraan yang digelar Agustus lalu itu, hanyalah melangkah hingga semifinal lewat Tantowi Ahmad/Lilyana Natsir, serta ganda putra Mohammad Ahsan/Bona Septano.

Mandeknya prestasi bulu tangkis juga terlihat di Piala Sudirman 2011. Di sana, langkah tim Indonesia harus terhenti di semifinal setelah ditundukkan tim Denmark.

Memang, prestasi bulu tangkis di SEA Games XXVI baru lalu terbilang cukup menggembirakan. Indonesia berhasil meraih lima emas, lewat tunggal putra, ganda putra, ganda putri, ganda campuran serta beregu putra. Emas SEA Games hanya lepas di nomor tunggal putri serta beregu putri. Tapi prestasi itu tak cukup untuk memuaskan dahaga pecinta olah raga khususnya bulu tangkis Indonesia.

Bahkan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, menyatakan kalau ada yang salah dari pembinaan bulu tangkis saat ini, sehingga pemain Indonesia bisa dikalahkan pemain dari negara yang tidak punya nama di bulu tangkis. Saat mengomentari hasil Kejuaraan Dunia 2011 lalu, Susi berkata bahwa kita memang tak boleh pesimistis, tapi diperlukan evaluasi menyeluruh untuk membenahi prestasi bulu tangkis Indonesia.

Jika merujuk peringkat pebulutangkis di Badminton World Federation (BWF), Indonesia hanya diwakili Simon Santoso yang berada di posisi 8 tunggal putra. Di sektor tunggal putri, Indonesia justru sama sekali tak memiliki wakil. Begitu pula halnya dengan sektor ganda putra dan putri. Indonesia baru memiliki wakil di sektor ganda campuran melalui Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir. Satu kondisi yang amat memprihatinkan.

Kini, bila melihat pada event bulu tangkis yang bakal digelar tahun 2012 mendatang, perlu perbaikan yang menyeluruh pada sistem pembinaan bulu tangkis nasional. Pada 2012 akan digelar Olimpiade 2012, di m ana bulu tangkis memiliki tradisi emas --satu hal yang patut untuk terus dipertahankan. Selain itu, akan digelar pula Piala Thomas dan Uber. Apabila tak terjadi pembenahan besar-besaran secara menyeluruh, dikhawatirkan prestasi bulu tangkis Indonesia akan lebih buruk di tahun mendatang.

Selain itu, faktor regenerasi juga patut diperhatikan. Indonesia harus lebih sering mengirimkan atlet lapis kedua untuk menguji kemampuan mereka. Kalau negara lain memberikan kesempatan pada pemain muda untuk tampil di ajang internasional, mengapa Indonesia tidak? Dengan sering bermain di ajang internasional akan membuat kemampuan mereka semakin meningkat sekaligus menimba pengalaman bagi mereka. Masalahnya saat ini, Indonesia masih terlalu tergantung pada pemain-pemain senior.

Untuk mengembalikan prestasi bulu tangkis, juga diperlukan program pembinaan yang menyeluruh, diikuti program latihan dengan dibantu pakar di bidang-bidang terkait. Jika kesemuanya bisa dilaksanakan, niscaya prestasi bulutangkis Indonesia bisa kembali ke puncak kejayaannya seperti dulu.

SEA Games yang Bermasalah, Meski Berbuah Juara Umum
Sejak awalnya, SEA Games XXVI yang dipercayakan penyelengggaraannya kepada Indonesia, memang sudah mengindikasikan bakal banyak menimbulkan masalah. Rencana membagi tuan rumah di empat daerah (Sumsel, DKI Jakarta, Jabar dan Jateng) yang kemudian diputuskan secara 'mengagetkan' hanya di dua kota, Jakarta-Palembang, sudah mulai memperlihatkan indikasi itu.

Jakarta yang sudah berulangkali menjadi tuan rumah berbagai event olahraga, termasuk multicabang bahkan hingga ke tingkat Asian Games, jelas jauh lebih siap daripada Palembang. Tapi justru ibukota Sumatera Selatan itu yang ditetapkan sebagai tuan rumah utama, yang berhak atas upacara pembukaan dan penutupan. Walhasil, kesiapan kota itu pun sejak jauh hari sudah diragukan.

Persiapan pelaksanaan SEA Games di Palembang pulalah yang kemudian memunculkan kasus hukum kontroversial, yaitu suap Wisma Atlet (di komplek Jakabaring). Seperti diketahui, kasus ini sendiri notabene adalah salah satu 'headline' kasus hukum (korupsi) di tanah air tahun ini, yang melibatkan "nama-nama tenar" macam Muhammad Nazaruddin, Mindo Rosalina, hingga menyeret-nyeret pula nama penting seperti Angelina Sondakh, bahkan Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum.

Terlepas dari itu, persiapan SEA Games toh terus berjalan, karena memang sudah seharusnya demikian. Walaupun dampaknya, di berbagai media massa luar negeri, terutama sekawasan, SEA Games kali ini akhirnya harus rela kerap disebut sebagai 'scandal-plagued (SEA) Games' atau 'corruption-related SEA Games' dan sebagainya.

Mendekati bulan pelaksanaan SEA Games, bahkan hingga hitungan minggu dan hari, masalah lainnya mulai terlihat. Yaitu harus tergesa-gesanya penyelesaian fasilitas fisik (termasuk venue pertandingan), yang sempat mengkhawatirkan banyak orang bahwa SEA Games ini bakal bisa digelar tepat waktu. Sementara di sisi lain, Inasoc sebagai penyelenggara sebelumnya juga sudah sempat kewalahan dalam hal pendanaan, sebelum akhirnya beberapa sponsor berhasil digandeng, sekaligus dengan diberikannya kebijakan 'potong kompas' pencairan dana.

Untunglah kemudian, di tengah riuh-rendah kritik yang terus berseliweran di berbagai forum dan media massa, pembukaan SEA Games XXVI sukses juga digelar pada saat yang direncanakan, yaitu pada tanggal 'keramat' 11 November 2011, di Komplek Olahraga Jakabaring, Palembang. Sebuah upacara pembukaan yang meriah mampu mempesona banyak orang, dengan ragam atraksi dan pertunjukan kembang api spektakuler yang konon menghabiskan dana seratus miliar rupiah lebih.

Bakal suksesnya Indonesia sebagai juara umum dengan perolehan medali terbanyak sendiri (182 emas, 151 perak, 143 perunggu), sementara itu, sudah bisa terbaca sejak medali pertama diraih di cabang olahraga dayung. Beberapa cabang olahraga sumber emas tradisional Indonesia, macam dayung, karate, pencak silat dan sebagainya, tetap berperan di SEA Games kali ini. Namun yang turut memperkuat sebenarnya adalah beberapa cabang baru non-olympic, seperti sepatu roda yang berhasil 'sapu bersih', juga panjat tebing yang mendominasi.

Saking bangganya dengan prestasi itu, bahkan Presiden SBY pun beberapa kali berkesempatan jumpa dengan para atlet peraih emas Indonesia, dengan salah satu yang diungkapkannya pada momen jamuan kontingen adalah keinginan untuk mempertahankan posisi juara umum (di SEA Games berikutnya). Sementara melalui Menpora Andi Mallarangeng, bonus peraih medali (mulai dari Rp 200 juta untuk tiap medali emas) pun langsung dicairkan hanya selang beberapa hari pasca upacara penutupan.

Hanya saja, tentunya SEA Games XXVI ini tetap masih menyisakan catatan kurang baik. Tidak berhasil diraihnya medali emas cabang bergengsi sepakbola, hanyalah salah satu hal sederhana. Yang lebih patut disayangkan justru adalah penyelenggaraan yang masih terkesan kurang rapi di sana-sini, plus sisa-sisa persoalan yang ditinggalkannya.

Sejumlah vendor (perusahaan jasa) penyelenggara yang masih menunggu pembayaran jasa mereka hingga saat ini, merupakan salah satu di antara persoalan tersisa itu. Begitu pula dengan laporan keuangan yang masih harus menunggu pelaporan dan auditnya, termasuk di Palembang, Sumatera Selatan, sebagai pusat penggelontoran dana besar-besaran untuk pesta olahraga dua tahunan se-Asia Tenggara ini.

Penulis: /SES