Ilustrasi pasangan suami-istri.

Jakarta - Melihat film-film romantis, sepertinya menikah adalah hal yang mudah, semua akan beres, dan membahagiakan bila dilakukan dengan orang yang dicintai. Sayangnya, di kehidupan nyata, tidak seperti itu. Selalu ada tantangan yang butuh dihadapi dengan fondasi hubungan yang kuat. Sebelum mentok menghadapi tantangan-tantangan yang mungkin menghadang, bentengi hubungan dengan tujuh topik untuk dibahas sebelum menikah dari Kim Leatherdale, penasihat hubungan di New Jersey, AS, berikut ini:

1. Uang
Cara masing-masing orang untuk menangani uang bisa sangat berbeda. Penting dibahas mengenai pembagian keuangan. Mengenai siapa yang akan membayar tagihan-tagihan, siapa yang menyisihkan uang untuk ditabung, dana darurat, siapa yang punya keputusan akhir dalam penanganan uang, apakah uangnya dijadikan satu atau masing-masing saja, dan sebagainya.

Perlu pula penyatuan pandangan mengenai kebutuhan dan keinginan. Misal, salah satu pihak memandang ponsel canggih adalah sebuah kebutuhan karena terkait pekerjaan, sementara yang lainnya menganggap hal itu sebatas keinginan, karena masih bisa menggunakan yang lama. Hal semacam ini mesti diperbincangkan.

Masalah uang dan harta, menurut Leatherdale, adalah hal utama yang menjadi penyebab pasangan bercerai.

2. Anak
Satukan pandangan, atau setidaknya cari jalan tengah mengenai jumlah anak yang diinginkan. Setelah itu, fokuskan cara mendidik anak, termasuk soal cara menghukum anak yang tidak taat aturan. Anak-anak adalah anugerah, tetapi bisa pula memicu stres. Karenanya, penting untuk menyiapkan diri mengenai hal ini.

3. Karier
Meski saat pacaran segala berkait dengan pekerjaan bisa berjalan lancar, tetapi saat menjalani pernikahan, pekerjaan bisa menjadi ganjalan. Perlu ditarik garis tengah mengenai hal-hal yang bisa ditoleransi terkait pekerjaan untuk kedua pihak. Misal, maksimal 1-2 minggu per bulan perjalanan dinas keluar kota/negeri. Poin-poin apa yang tidak bisa ditolerir terkait pekerjaan? Apakah kedua pihak harus bekerja atau satu saja?

4. Waktu bebas
Perbincangkan pula tentang waktu bersosialisasi dengan teman kerja atau teman lain di luar waktu kerja. Seberapa lama yang wajar?Bagaimana menyeimbangkan waktu kerja, waktu dengan keluarga, dan waktu untuk bersosialisasi?

5. Seks dan keintiman
Pola perbincangan tentang seks adalah hal yang wajar dibicarakan dengan pasangan. Sayangnya, tak banyak pasangan mau terbuka dengan satu sama lain mengenai seks. Kenali dan kenalkan cara masing-masing dalam menyampaikan kasih sayang. Upayakan untuk saling memahami cara dan tipe mengasihi supaya tidak salah paham atau kekurangan.

6. Ipar, mertua, dan keluarganya
Setiap keluarga memiliki cara, aturan, dinamika, budaya, dan hal-hal yang dianggap penting. Pelajari dulu hal-hal penting di keluarganya, demikian pula Anda, perlu mengajarkan hal-hal tentang nilai keluarga Anda kepada pasangan. Dari sini, putuskan bagaimana Anda dan pasangan menghabiskan musim liburan keagamaan. Bagaimana garis besar keterlibatan keluarga besar terhadap hubungan, dan sebagainya.

7. Hal-hal penting lainnya
Setiap pribadi punya nilai dan cara pandang masing-masing. Apa yang penting untuk sebuah pasangan, mungkin tak penting untuk pasangan lain. Nah, kenali apa yang penting di hubungan Anda. Misal; urusan kesehatan, latar belakang trauma, pernikahan terdahulu, ada tunjangan anak di pernikahan terdahulu, dan sebagainya.

Ambillah waktu bersama pasangan untuk membicarakan dan membahas hal-hal ini. Bila perlu, dicatat agar tidak lupa. Anggap hal ini sebagai investasi hubungan, namun perlu diingat, setiap orang bisa lupa. Saling ingatkan, namun jangan menghakimi bila ada yang lupa/salah. Tidak perlu dibicarakan semua sekaligus, tetapi usahakan dibahas.

 

Penulis: /NAD