"Ecotourism", Andalan Pariwisata Kaltim

Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. (Burufly)

Oleh: | Sabtu, 14 Februari 2015 | 18:10 WIB

Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur sesungguhnya memiliki banyak potensi pariwisata, namun tingkat pengunjungnya belum signifikan karena memang belum dikelola secara profesional. Karena itu, diperlukan formula baru untuk menciptakan suasana khas agar wisatawan tertarik berkunjung ke Kaltim.

Satu-satunya objek yang hingga kini bisa "menghipnotis" wisatawan nusantara dan mancanegara adalah Kepulauan Derawan di Kabupaten Berau. Karena Tuhan memang menganugerahkan keindahan alam yang tiada duanya di pulau paling utara di "Benua Etam" itu, sehingga sulit ditandingi objek dari daerah lain.

Sementara total jumlah objek wisata yang ada di Kaltim dan wilayah yang telah menjadi Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) saat ini tercatat 356 jenis. Terdiri dari 220 jenis wisata alam, 30 wisata budaya, 15 wisata buatan, 43 wisata peninggalan sejarah dan budaya, dua museum, enam taman budaya, 30 desa kerajian tradisional, dan 10 unit taman wisata alam.

Khusus di Samarinda yang merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, terdapat tujuh wisata unggulan, yakni Kebun Raya Unmul, wisata budaya Pampang, acara pelas tahun, air terjun Tanah Merah, Islamic Center, Tepian Mahakam, dan Kampung Tenun.

Masing-masing lokasi tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan serapan pengunjung yang berbeda pula, mengingat masing-masing individu memiliki kegemaran dan cita rasa tersendiri dalam menikmati objek wisata maupun suasananya.

Begitu pula dengan objek wisata di kabupaten dan kota lain di Kaltim, tentu semuanya memiliki keunggulan dan daya tarik tersendiri dalam menggaet wisatawan, termasuk menarik minat peneliti maupun lembaga tertentu sebagai wadah rekreasi sekaligus edukasi.

Dalam upaya menarik wisatawan lebih banyak dari sebelumnya, tentu diperlukan strategi khusus. Strategi itu tentu tidak bisa dilakukan seperti cara konvensional seperti yang selama ini dilakukan, karena sudah terbukti kurang efektif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kaltim, sepanjang 2014 provinsi itu dikunjungi sebanyak 13.156 wisatawan mancanegara (wisman) untuk melakukan perjalanan ke sejumlah lokasi wisata, seperti Kepulauan Derawan, wisata alam, maupun wisata budaya, dan pedalaman.

Wisman terbanyak datang ke Kaltim adalah dari Malaysia, kemudian Singapura, Australia, India, dan Amerika Serikat yang mencapai 7.490 oeang atau 56,96 persen dari total wisman dari berbagai negara.

Dari kunjungan lima negara terbanyak tersebut, kunjungan tertinggi berasal dari Malaysia yang mencapai 3.444 orang, disusul Singapura 1.764 turis, dari India 835 pengunjung, asal Australia tercatat 828 pelancong, dan dari Amerika Serikat 619 wisatawan.

Dari jumlah wisman tersebut, mereka yang datang melalui pintu masuk Kota Balikpapan sepanjang tahun 2014, jumlah tertinggi terjadi pada Juni 2014 yang mencapai 1.425 orang.

Dari kunjungan wisman tersebut, rata-rata tingkat penghunian kamar hotel kelas bintang lima pada 2014 mencapai 70,47 persen, sehingga hal ini menjadi tingkat penghunian kamar tertinggi ketimbang hotel selain bintang lima, sedangkan tingkat penghunian kamar terendah pada hotel bintang satu yang hanya 39,04 persen.

Secara umum, katanya, rata-rata lama tamu menginap di hotel kelas bintang selama Desember 2014, mengalami kenaikan menjadi 2,37 hari dari rata-rata lama tamu menginap selama November 2014 yang selama 2,14 hari.

Pada Desember 2014, rata-rata lama menginap tamu mancanegara mengalami penurunan menjadi 4,18 hari dibandingkan pada November 2014 yang selama 4,41 hari.

Sedangkan rata-rata lama menginap tamu nusantara justru meningkat dari bulan sebelumnya, yakni rata-rata mengalami kenaikan menjadi 0,25 hari pada Desember 2014 yang mencapai 2,32 hari dibandingkan November 2014 yang selama 2,07 hari.

Apabila diamati dari perkembangan rata-rata lama tamu menginap setiap bulan di hotel kelas bintang, maka paling lama tamu menginap terjadi pada Januari 2014, yaitu selama 2,64 hari, sedangkan yang lama menginap tersingkat pada April yang tercatat rata-rata 1,80 hari.

Usung "ecotourism" Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Kaltim Yusi Ananda mengatakan, dalam upaya menarik wisatawan dan menata kepariwisataan di daerahnya agar lebih baik, maka pihaknya akan membantu pemerintah dalam mengusung "ecotourism" atau ekowisata.

Ecotourism merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal, aspek pembelajaran dan pendidikan yang intinya memberdayakan masyarakat setempat.

"Kaltim merupakan daerah yang kaya bukan hanya migas, batu bara, dan kehutanan, tetapi juga dari sisi pariwisata asalkan dikelola dengan baik, makanya kami unggulkan ecotourism baik wisata perairan maupun lainnya," ujar Yusi.

Di Kaltim, lanjutnya, selain objek wisata di kepulauan Derawan yang sudah terkenal mendunia, masih banyak objek wisata alam lain yang akan lebih menarik jika pengelolaannnya menganut pola ekowisata.

Ecotourism menerapkan konsep pariwisata ramah lingkungan yang menggunakan kekayaan dan keindahan alam, terutama alam yang masih asli untuk menciptakan pengalaman unik bagi wisatawan yang berkunjung.

Kaltim mempunyai banyak lokasi alam yang masih asli. Untuk menjangkau lokasi tersebut memang tidak mudah karena transportasi dan akomodasi belum tentu mudah didapat.

Tetapi banyak contoh objek wisata di dunia yang susah untuk dijangkau, namun tetap banyak dikunjungi wisatawan. Segala kekurangan di bidang transportasi dan akomodasi tersebut bukanlah menjadi penghalang jika bisa dikemas dengan elok.

"Kami harus mampu menawarkan informasi yang bersifat komprehensif dan menawarkan solusi kepada wisatawan, sehingga mereka tidak ragu, bahkan merasa penasaran untuk datang ke lokasi alam yang masih asli meskipun transportasi dan akomodasinya minim," katanya.

Terkait dengan itu, maka pihaknya mengajak semua pihak untuk berpartisipasi dalam menyukseskan promosi pariwisata di Kaltim, baik wisata budaya, wisata bahari, dan jenis wisata lainnya.

Demi kelancaran tersebut, dibutuhkan kerja sama keterpaduan berbagai lembaga, seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia atau Association of the Indonesia Tour & Travel Agencies (ASITA).

Kemudian kerja sama dengan Asosiasi Pariwisata, Otoritas Bandara dan Terminal (PT Angkasa Pura), perusahaan penerbangan, dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan sehingga pihaknya dapat melaksanakan tugas dengan baik.

"Untuk memudahkan kerja sama itu, maka sembilan anggota BPPD Kaltim berasal dari berbagai lembaga terkait, seperti dari PHRI, ASITA, HPI, APJII, akademisi dengan latar belakang pariwisata dan pemasaran, dari perwakilan penerbangan nasional, dan dari media massa," ujarnya.

Pengelolaan wisata yang menggunakan formula ekowisata ini diharapkan mampu memperbaiki kondisi alam di Kaltim, termasuk mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisata. Pemerintah juga diharapkan intensif mendorong dan memberikan regulasi agar pengembangan konsep ecotourism tersebut dapat berjalan mulus.


Sumber: Antara
ARTIKEL TERKAIT