Sunset di atas puncak Gili Lawa Darat, Taman Nasional Komodo.

Menjemput Indahnya Matahari Terbit di Gili Lawa

Sunset di atas puncak Gili Lawa Darat, Taman Nasional Komodo. (Suara Pembaruan/Alex Madji)

Jakarta - Pagi-pagi buta, rombongan wartawan dan pelaku pariwisata Tiongkok dibangunkan oleh anak buah kapal yang buang jangkar sekitar 200 meter dari bibir pantai Pulau Gili Lawa Darat, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Jarum jam baru menunjukkan pukul 04.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Namun,  semua orang sudah harus bangun karena harus segera naik ke puncak bikit Gili Lawa atau yang terkenal dengan sebutan Gili Lawa Hill.

Rombongan diangkut dengan dua speed boat ke bibir pantai. Selanjutnya, mereka memanjat bukit yang terjal. Meski jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena medan yang curam dibutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk sampai di puncak. Bahkan ada tiga peserta yang tidak mampu sampai di puncak dan terpaksa turun lagi dan kembali ke kapal bersama pemandu wisata.

Mendaki bukit ini, perlu tenaga yang kuat dan nafas ekstra. Rombongan wartawan dari Tiongkok, baik pria maupun wanita, tersengal-sengal mendaki bukit yang terjal sebelum akhirnya sampai di puncak yang tidak seberapa luas itu. Mereka tiba ketika matahari belum menyembul.

Mereka tiba pada saat yang tepat karena masih sempat melepas lelah sebelum menyambut sang mentari pagi. Setelah lelah sedikit terusir, sang mentari menyembul dari balik bukit pulau seberang.

Langsung seketika itu juga, kamera baik pocket maupun handphone diarahkan ke arah timur. Mereka juga berteriak, "wouuuw..its beautiful sunrise". Inilah objek utama wisata di Pulau Gili Lawa.

Untuk menyaksikan sunrise ini, para wisatawan harus menginap di atas kapal di tengah lautan yang dikelilingi pulau-pulau kecil. Sehingga, perairan di Gili Lawa ini seolah seperti danau yang tidak seberapa besar dibanding dengan Danau Toba.

Perlahan-lahan, matahari meninggi. Beberapa wisatawan yang juga menginap di atas kapal terlambat naik. Mereka tiba setelah matahari agak tinggi. Mereka tidak menyaksikan saat ia datang dari balik gunung. Tapi tetap menyisakan semburat merah di air laut dan langit.

 

Suara Pembaruan

Alexander Madji/FER

Suara Pembaruan