Turis tengah mengabadikan perjalanannya ke Amerika Serikat
Ini anggapan orang Amerika sendiri terhadap dirinya.

Sebuah survei baru dari LivingSocial yang mengambil 5600 responden dari lima negara yang dilakukan oleh Mandala Research, menemukan bahwa orang Amerika menilai dirinya sendiri sebagai turis terburuk di dunia.

Penilaian ini terbagi juga antara orang Kanada dan Australia, sementara Irlandia menilai bahwa tetangga mereka, Inggris, sebagai yang terburuk, dan Inggris mengidentifikasi Jerman sebagai turis yang kasar.

Menyusul Amerika (20 persen), 15 persen dari responden Amerika menyatakan bangsa China adalah turis terburuk, diikuti Prancis (14 persen), Jepang (12 persen), dan Rusia (11 persen).

Selain itu, empat dari 10 responden Amerika mengakui pernah mencuri atau tanpa sengaja mengambil barang-barang di luar contoh peralatan mandi dari hotel, dengan handuk (28 persen) yang menduduki tempat sebagai benda yang paling banyak diambil.

Hasil dari survei online yang dilakukan di Amerika Serikat pada Februari di 20 media market teratas dan dirilis pada Jumat lalu, memiliki margin kesalahan 1,5 persen.

Di samping salah persepsi yang sering terjadi bahwa orang Amerika tidak banyak pergi ke luar negeri, hasil tersebut memperlihatkan bahwa kita memang tidak banyak melancong ke luar negeri, demikian menurut Maire Giffin, direktur komunikasi untuk LivingSocial.

“Kami menemukan bahwa 78 persen orang Amerika telah mengunjungi setidaknya satu negara di luar negeri, dan 36 persen telah melancong ke empat hingga lebih destinasi di luar negeri,” kata Griffin.

Menurut Michael Brein, penulis buku panduan dan psikolog perjalanan, orang Amerika mungkin tidak terlalu buruk sebagai turis, hanya lebih terus terang tentang kekurangan yang ada di depan matanya. “Kami cenderung terus terang, terbuka, dan jujur, lebih memiliki kebajikan ketimbang orang lain lihat,” kata Brein.

Secara kontras, warga negara dari negara-negara lain mungkin melihat sifat itu sebagai kelemahan, kata Brein, yang memiliki gelar doktoral di bidang psikologi sosial. “Karena itu, sebagai sebuah kebudayaan, kami mungkin terlihat lebih mencela,” kata Brein.

Selama bertahun-tahun silam, menurut Brein, Amerika terisolasi secara sosial dan budaya dari orang-orang lain di belahan dunia lain, namun dengan meningkatnya kebudayaan global, ia yakin Amerika melakukan bagiannya untuk bisa membaru. Tentu saja ditekankan Brein, hal ini tergantung pada invidunya.

“Kami adalah bangsa yang besar dengan berbagai jenis orang-orang yang melakukan perjalanan. Aku sudah bertemu dengan banyak jenis orang Amerika yang tidak sesuai dengan gambaran stereotipe Amerika yang buruk,” katanya.

Griffin mengatakan bahwa beberapa aktivitas travel orang Amerika – seperti memotret, makan di restoran baru, dan bertemu orang baru – mendorong untuk mempelajari lebih banyak kebudayaan yang lain.

Penulis: