Gunung Padang merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara. Kali pertama situs ini dilaporkan peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krompada 1914.
Berupa batu tegak dan punden berundak.

Tim arkeologi dibawah kordinator Ali Akbar mengklaim, menemukan pintu masuk situs Megalit Gunung Padang, Campaka, Cianjur, Jawa Barat, pada Minggu (24/06), berupa batu tegak dan punden berundak.

"Ada kesamaan dan perbebedaan dengan struktur yang selama ini diteliti. Bebatuan yang ditemukan seperti ada garis tegas horizontal berjumlah tiga garis, meskipun sudah rubuh namun ini menjadi salah satu kunci utama," katanya.

Adanya kelainan pada temuan kali ini, ungkap Ali, dimana untuk temuan sebelumnya batu bergaris tersebut, berada di kedalaman tebing sekitar 40 meter, sejajar dengan teras ke tiga.

Batu yang disekelilingnya masih ditutupi belukar kuat dugaan menuju rongga yang berada di perut situs megalitik Gunung Padang. Temuan ini, diperkuat dengan temuan dua batu tegak di bawahnya yang berjarak 50 meter dari lokasi dan sejajar dengan teras ke lima.

"Dua batu dengan tinggi satu meter lebih dengan diameter 40 sentimeter, berdiri sejajar dengan jarak sekitar dua meter. Ada garis yang sama di kedua bebatuan ini, seperti batu bergaris diatasnya," ungkapnya.

Batu berdiri tersebut, lanjut Ali, diperkirakan sebagai pintu masuk dengan susunan tangga yang berada di bawahnya. Penemuan anak tanga pada punden berundak yang lebih kecil sisi timur situs, diperkuat dengan temuan sumber mata air yang tidak jauh dari temuan itu.

"Ini memperkuat bagaimana sumber mata air, menjadi kesatuan dari struktur dan konstruksi Situs Gunung Padang. Mata air alur religi masyarakat purba yang mengarah pada pemujaan di situs pada masanya," tuturnya.

Saat ini, tambah Ali, tim memfokuskan diri, untuk mencari titik dan upaya membuka rongga yang diduga sebagai pintu masuk ke dalam perut situs itu. Hasil geo listrik dan geo radar telah menegaskan pengalaman Dadi juru pelihara situs yang sempat masuk ke sebuah rongga mirip goa yang terdiri dari batuan 40 tahun lalu.

"Kontruksi situs yang terdiri tanah dan bebatuan yang mulai lapuk serta labil menjadi pertimbangan, sehingga menghambat tim untuk melakukan evakuasi," katanya.

Sementara itu, meskipun mendapat kendala, tim yang terdiri dari 15 orang itu, tetap melakukan pencarian. Tim arkeologi bekerja menyebar secara berkelompok, dibagi menjadi 4 kelompok, mengunakan alat sederhana.


Penulis: