Penti Weki Peso Beo, Ritus Pembersihan Dosa Kampung (Bagian II)

Penti Weki Peso Beo, Ritus Pembersihan Dosa Kampung (Bagian II)
Warga Beo (kampung) Wela sedang menyaksikan Caci, petarugan adu cambuk satu lawan satu, yang menjadi bagian dari ritual Penti Weki Peso Beo di Kampung Wela, Manggarai, NTT Juli 2012. ( Foto: Robert Wardi/ Suara Pembaruan )
Sabtu, 18 Agustus 2012 | 00:09 WIB
Diakhir dengan Perayaan Misa sebagai tanda bahwa seluruh persembahan dalam rangkaian penti disatukan dalam Perayaan Ekaristi

Kampung Wela, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur awal Juli silam menggelar Penti Weki Peso Beo, salah satu upacara adat yang terbilang langka di Manggarai, salah satu suku di Flores yang wilayahnya mencakup dua kabupaten lain, Manggarai Timur dan Barat.

Penti Weki Peso Beo merupakan upacara pembersihan kampung dari dosa warga kampung dari zaman para leluhur hingga kini dan ditandai dengan persembahan Jarang Bolong (Kuda Hitam) sebagai kurban silih dosa. Jarang Bolong akan disembeli di Compang (altar kurban adat) yang tegak berdiri di tengah natas (halaman) Mbaru Gendang (rumah adat).

“Ini namanya Penti Weki Peso Beo dengan Jarang Bolong sebagai hewan kurban utama. Baru kali ini Kampung Wela melakukannya ritus seperti ini sejak saya lahir,” kata Philipus Jeharut (69) yang menjabat sebagai Tu'a Golo (pemangku utama adat) Kampung Wela.

Setelah melewati serangkaian ritual adat sejak tanggal 3 Juli (Penti Weki Peso Beo, Ritus Pembersihan Dosa Kampung Bagian I), akhirnya pada 6 Juli sebagai puncak penti weki, peso beo berupa penyembelihan jarang bolong.

“Inilah Jarang Bolong untuk menghapus segala dosa kampung ini, membersihkan semua hati dan pikiran warganya. Mungkin dulu ada salah dan dosa dari leluhur kampung yang tak diakui hingga saat ini atau berbagai macam kasus yang menyebabkan kekeruhan dan merugikan orang lain dari sejak dulu sampai sekarang. Nah, sekarang kami mengakui semua itu, sehingga kampung ini terbebas dari segala macam ketidaknyamanan dalam kehidupan warga dan keturunannya di masa mendatang,” doa Vinsen Jahan, selaku Tua' Adak Torok (pembawa do'a adat) dalam bahasa Manggarai.

Pengurbanan jarang bolong, ritual diikuti oleh acara Rungka Lodok/Lingko, Barong Wae, dan Barong Compang. Rungka Lodok/Lingko merupakan penghormatan dan permohonan terhadap roh leluhur penjaga ladang dan kebun agar selalu memberikan hasil berlimpah kepada warga kampung.

Barong wae merupakan ritus penghormatan terhadap leluhur yang penjaga mata air agar para leluhur selalu membasahi bumi dan menganugerahkan air yang berlimpah untuk mengairi sawah dan ladang.

Barong Compang adalah penghormatan terhadap para leluhur penjaga kampung. Compang adalah simbol altar kurban adat terhadap Wujud Tertinggi dan melalui Barong Compang warga Kampung Wela berharap roh penjaga kampung menyelamatkan kampung dari serangan musuh.

Dalam budaya Manggarai terdapat lima prinsip yang harus dijaga keseimbangan dan keselarasannya yaitu Lingko (kebun), Wae Teku (Mata Air), Natas Labar (halaman rumah), Compang (altar persembahan/sesajian) dan Mbaru Ka'eng (rumah tinggal).

Pelaksanaan Penti selalu terkait dengan refleksi atas kelima sendi kehidupan tersebut secara integral. Jika ada ketidakseimbangan dalam kehidupan, melalui acara Penti, warga kampung kemudian mencari kekuatan dan perlindungan kepada lima sendi kehidupan tersebut.

Setelah semua upacara itu rampung, dilanjutkan dengan Libur Kilo pada malam harinya. Libur kilo sebagai warga kampung siap menyambut hari esok dengan semangat baru dan jiwa yang bersih.

Kegiatan Penti Weki Peso Beo ditutup dengan Perayaan Misa pada tanggal 7 Juli dan diikuti oleh warga Kampung Wela yang mayoritas beragama Katolik. Misa menjadi tanda bahwa seluruh persembahan dalam rangkaian penti disatukan dengan persembahan dalam Perayaan Ekaristi, sebagai tanda kehadiran Tuhan sebagai awal dan akhir hidup manusia.
CLOSE