Maskapai Indonesia Diminta Terbang Langsung ke Kamboja

Maskapai Indonesia Diminta Terbang Langsung ke Kamboja
kamboja ( Foto: Ulin/ BERITASATU )
Rabu, 29 Agustus 2012 | 10:20 WIB
Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menyampaikan langsung permintaan adanya penerbangan langsung itu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat KTT ASEAN di Bali tahun lalu

Pemerintah Kamboja menginginkan maskapai penerbangan Indonesia terbang langsung ke Ibukota Phnom Penh dan kota Siem Reap, di mana terdapat kompleks candi Angkor Wat yang bersejarah dan ramai dikunjungi wisatawan.

"Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menyampaikan langsung permintaan adanya penerbangan langsung itu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat KTT ASEAN di Bali tahun lalu," kata Dubes RI untuk Kamboja Soehardjono Sastromihardjo di Siem Reap, Rabu, saat mendampingi Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di Pertemuan ke-44 Menteri-Menteri Ekonomi ASEAN.

Selain itu, kata Soehardjono, Hun Sen juga mengharapkan PT Telkom membeli saham Cam GSM, operator telekomunikasi di Kamboja.

"Permintaan Kamboja agar Indonesia membeli beras sudah ditandatangani kesepakatan kerja samanya, namun untuk penerbangan langsung dan pembelian saham Cam GSM masih perlu pembahasan dan kajian lebih lanjut," katanya.

Menurut Soehardjono, jumlah penduduk Kamboja sekitar 14,5 juta. Namun jumlah turis asing termasuk dari Indonesia cukup besar, yakni 2,5 juta. Kehadiran turis ini bisa menjadi potensi pasar tersendiri bagi Kamboja yang ingin mengembangkan sektor pariwisatanya. Sekarang ini sekitar 80 persen rakyat Kamboja bekerja di sektor pertanian.

Soehardjono mengatakan sejumlah maskapai Indonesia seperti PT Sriwijaya Airlines dan Mandala Airlines sudah menyampaikan minat dan niatnya untuk terbang langsung ke Kamboja. Arus kunjungan wisatawan ke Kamboja terus meningkat sehingga sejumlah maskapai asing yang terbang langsung ke Kamboja terus bertambah seperti AirAsia, Thai Airways, Vietnam Airlines, Silk Air dan lain-lain.

"Maskapai Indonesia belum mengambil manfaat dari arus penumpang yang makin ramai ke Kamboja," katanya.

Terhadap keinginan adanya penerbangan langsung dari Indonesia ke Kamboja, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan prinsipnya sepakat dan mendukung. Namun, faktanya Gita bisa memahami mengapa maskapai Indonesia belum dengan cepat memenuhi permintaan Kamboja untuk penerbangan langsung.

Untuk memenuhi kebutuhan penerbangan domestik saja masih dirasakan kurang pengadaan pesawatnya. Garuda Indonesia saja yang sudah pesan sedemikian banyak pesawat hanya dapat "delivery" satu pesawat dalam sebulan.

"Jadi persoalannya ada pada manufaktur dan pengadaan pesawat," katanya.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyach Satar pernah mengatakan pada 2012 jumlah armada Garuda Indonesia akan mencapai sebanyak 105 pesawat. Melalui program "Quantum Leap", Garuda Indonesia akan mengoperasikan sebanyak 194 pesawat pada 2015.

Sebanyak 20 pesawat baru yang akan diterima Garuda Indonesia tahun ini, menurut Emirsyah, akan digunakan untuk untuk melayani penerbangan rute domestik dan regional melalui hubungan di Makassar, Medan, dan Balikpapan mulai akhir tahun 2012.

Mengenai permintaan agar PT Telkom membeli saham provider Kamboja, Gita menyatakan itu sepenuhnya kebijakan perusahaan. "Tanya langsung saja ke Telkom," katanya.
CLOSE