Layanan "On-demand", Tren Konsumen 2015

Ilustrasi Internet (history.com)

Oleh: Ovi Oktaviani / FER | Jumat, 23 Januari 2015 | 05:48 WIB

Jakarta - Pola penggunaan media makin mengglobal. Pengguna bergeser ke arah layanan on-demand yang mudah digunakan sehingga memungkinkan untuk mengakses konten video secara lintas platform. Tahun 2015 akan menjadi tonggak sejarah di mana orang-orang akan lebih banyak menonton video streaming ketimbang siaran di televisi.

Hal ini terungkap dalam laporan tahunan yang dilakukan Ericsson ConsumerLabs edisi keempat soal '10 Hot Consumer Trends 2015' seperti disampaikan Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Thomas Jul kepada media di Jakarta, Kamis (22/1). Ini ada tren teratas dari 10 tren yang dilaporkan Ericsson tersebut.

Thomas mengatakan, di seluruh dunia pengguna internet berbagi hal yang sama, yakni melakukan browsing di internet dan menggunakan media sosial setiap harinya. Temuan ini juga sejalan dengan survei yang dilakukan Ericsson di 23 negara.

"Pattern media juga terus mengglobal. Sejak 2011, kami meneliti perilaku pengguna media di 9 negara. Pada tahun itu, 83 persen orang mengaku menonton siaran TV beberapa kali dala seminggu. Dari jumlah itu, baru 61 persen yang menyaksikan siaran TV secara streaming on-demand," jelas Thomas.

Meski demikian, Thomas menjelaskan, perilaku itu kini berubah. Pengguna kini beralih ke layanan yang lebih mudah dan langsung (on-demand) yang memungkinkan metode lintas platform ke konten video. "Entah yang Anda tonton itu tayangan favorit di AS, Tiongkok, atau Spanyol, masa depan kini adalah streaming," kata Thomas.

Tren konsumen lainnya yang didapati oleh Ericsson ConsumerLabs untuk tahun ini adalah rumah impian. Konsumen menunjukkan tingginya minat untuk memiliki rumah dengan sensor-sensor untuk mengetahui masalah pada sistem kelistrikan dan air atau mengetahui apakah ada anggota keluarga yang meninggalkan rumah.

Thomas mengatakan, dengan makin tingginya adopsi pita lebar tetap dan penggunaan smartphone dengan layanan mobile broadband, kehidupan saat ini makin terhubung. "Meski demikian, di tengah tingginya konektivitas, rumah-rumah kita tidak serta-merta makin pintar. Ini yang ingin diubah karena masyarakat makin ingin rumah mereka bisa makin berfungsi," kata dia.

Tren konsumen lainnya yang didapati Ericsson ConsumerLabs adalah soal berbagi pikiran dengan menggunakan smartphone, adanya masyarakat yang makin cerdas karena teknologi, munculnya perilaku berbagi masyarakat, smartphone berubah menjadi dompet digital.

Tren lainnya adalah keinginan untuk tetap melindungi data pribadi di tengah keterbukaan media, munculntya tren penggunaan teknologi untuk menunjang gaya hidup sehat, munculnya teknologi untuk mempermudah kerja rumah tangga. Dan yang terakhir, generasi masa kini makin ingin terhubung dengan internet dan makin canggih dalam layanannya.

Efek Smartphone

Sementara itu, Michael Bjorn, kepala riset dari Ericsson ConsumerLabs mengatakan, efek kumulatif dari smartphone yang kini menjadi bagian dari masyarakat luas sangat mengagumkan. Sebagai konsumen, mereka memiliki banyak pilihan aplikasi-aplikasi baru, dan memilih aplikasi yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

"Mereka kini bisa memilih aplikasi-aplikasi yang mungkin nantinya bisa ditingkatkan,diperkaya atau bahkan memperpanjang hidup kita pada kecepatan tinggi yang bahkan tidak disadari bahwa sikap dan perilaku kita berubah lebih cepat dari sebelumnya," kata Michael.

Menurut dia, layanan dan produk yang dulunya berada di luar imajinasi manusia kini lebih mudah diterima dan dipercaya untuk masuk ke pasar. Dengan waktu hanya lima tahun dari sekarang untuk sampa tahun 2020, Michael mengatakan, masa depan bisa kelihatan lebih jelas dibanding sebelumnya.

Wawasan-wawasan yang ada dalam laporan '10 Tren Terkini untuk Tahun 2015 dan Ke Depannya" merupakan hasil dari program riset global Ericsson ConsumerLabs yang memiliki fokus spesial pada pemilik smartphone berumur 15 sampai 69 tahun di Johannesburg, London, Mexico City, New York, Moskow, San Fransisco, Sao Paulo, Shanghai, Sydney, dan Tokyo yang secara stastistik merepresentasikan pandangan dari 85 juta pengguna internet.


Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT