Jumlah Netizen 88,1 Juta

Mayoritas Netizen di Indonesia Berusia 18-25 Tahun

Ilustrasi belanja online (Online Shop) (Istimewa)

Oleh: Emanuel Kure / FER | Senin, 30 Maret 2015 | 06:12 WIB

Jakarta - Pada akhir 2014 tercatat, jumlah pengguna internet (netizen) di Indonesia mencapai 88,1 juta pengguna atau meningkat 23 persen dibanding tahun sebelumnya yang sebanyak 71,9 juta. Dengan demikian, penetrasi netizen di Tanah Air kini naik menjadi 34,9 persen dari posisi sebelumnya 28,6 persen. Mayoritas pengguna internet berusia 18-25 tahun.

Demikian hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bekerja sama dengan Pusat Kajian dan Komunikasi Universitas Indonesia (Puskakom UI) di Indonesia, yang diumumkan Ketua Umum APJII Samuel A Pengerapan di Jakarta, akhir pekan lalu. Penghitungan pentrasi itu didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan jumlah penduduk Indonesia sampai 2014 mencapai 252 juta jiwa.

Ketua Umum APJII yang akrab disapa Sammy itu mengatakan, jumlah pengguna internet maupun penetrasi internet memang mengalami peningkatan, namun peningkatannya belum sesuai harapan. Selain itu, APJII juga belum melaporkan bagaimana kecepatan akses internet di Indonesia. "Pertumbuhan ini menggembirakan, tetapi kami berharap semestinya bisa lebih dari itu,” kata Sammy.

Menurut Sammy, jika mengacu pada standar Millenium Development Goals (MDGs), hasil tersebut kurang memuaskan. Sebab, MDG's mensyaratkan, pada 2015, penetrasi pengguna internet di Tanah Air minimal sudah mencapai 50 persen dari total penduduk Indonesia. Pada 2014, penetrasinya masih 35 persen. Bila pertumbuhannya stabil, pentrasi internet pada 2015 diperkirakan masih berada pada angka 41-42 persen.

"Tingkat penetrasi seperti yang diharapkan MDG's belum bisa tercapai pada tahun ini (2015). Tapi 2016, saya yakin penetrasinya bisa mencapai separuh dari jumlah penduduk Indonesia. Hal ini tentu tidak mudah. Harus kerja keras bersama-sama pemerintah, privat sektor, dan juga elemen masyarakat lain, sehingga bisa diwujudkan," ujar Sammy.

Usia 18-25 Tahun

Selain melakukan survei terhadap jumlah pengguna dan juga penetrasinya, APJII dan Puskakom juga meneliti karakter pengguna internet berdasarkan usia, pekerjaan dan juga wilayah.

Bedasarkan usia pengguna, mayoritas pengguna internet di Indonesia adalah berusia 18-25 tahun. Persentasenya mencapai 49,0 persen. Artinya, segmen pengguna internet terbesar di Indonesia adalah mereka yang termasuk kategori digital natives.

Digital natives adalah generasi yang lahir setelah tahun 1980, ketika internet mulai digunakan masyarakat secara luas. Sedangkan, yang berusia 26-35 tahun sebanyak 33,8 persen, disusul usia 35-45 tahun 14,6 persen.

Sementara itu, berdasarkan pekerjaan, mayoritas pengguna internet adalah netizen yang sudah bekerja atau wiraswasta sebesar 55 persen, disusul mahasiswa 18 persen, ibu rumah tangga 16 persen, pelajar (SD, SMP, SMA) 5 persen, dan yang tidak bekerja sebesar 6 persen.

Sedangkan dari sisi wilayah, penetrasi pengguna internet masih dikuasai wilayah Sulawesi 39 persen, Jawa-Bali 35 persen, Sumatera 34 persen, Nusa Tenggara, Papua dan Maluku 35 persen, serta Kalimantan 28 persen.

"Penyebaran penetrasi internet itu dipengaruhi oleh dua faktor, yakni daya beli masyarkat dan juga kesiapan jaringan atau infrastruktur. Jadi, kalau kedua faktor itu sudah terpenuhi, penyebaran penetrasi pun akan lebih cepat lagi,” ujar Sammy.

Akses Internet Lewat Smartphone

Terkait perangkat yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam mengakses internet sudah didominasi oleh telepon seluler, yakni sebesar 85 persen. Sedangkan laptop/netbook 32 persen , PC/Desktop 14 persen, dan tablet 13 persen.

Menariknya lagi, sebuah fakta baru menemukan, pengguna yang berjenis kelamin wanita lebih banyak menggunakan internet dibandingkan pria. Pengguna wanita 51 persen, sedangkan pria 49 persen.

Lebih lanjut, terkait perilaku pengguna dalam mengakses konten, disebutkan yang paling banyak adalah pengguna yang mengakses aplikasi jejaring sosial, yaitu mencapai 87,4 persen, searching/browsing 68,7 persen, instan massaging 59,9 persen, mencari berita terkini 59,7 persen, download dan upload video 27,3 persen.

Sedangkan, terkait perilaku belanja online, disebutkan bisnis ini mempunyai masa depan yang cerah. Dari sisi infrastruktur dan tingkat penetrasi sudah lumayan bagus. Namun, kata Sammy, yang perlu diperhatikan lagi adalah sistem logistik dan juga payment gateway.

"Saya bisa bicara dari sisi infrastruktur dan penetrasinya. Tapi dari sisi sistem pembayaran dan sebagainya tentu mempunyai aturan sendiri. Saya pikir soal payment gateway itu wewenangnya BI (Bank Indonesia),” terang Sammy.


Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT