Diskusi "Profesionalisme Media Siber di Tengah Belantara Hoax" yang digelar dalam acara Deklarasi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), di Gedung Dewan Pers, Jakarta, 18 April 2017.

Lawan Hoax dengan Konten Positif

Diskusi "Profesionalisme Media Siber di Tengah Belantara Hoax" yang digelar dalam acara Deklarasi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), di Gedung Dewan Pers, Jakarta, 18 April 2017. (Beritasatu.com/Herman)

Jakarta - Public Policy Lead Twitter Indonesia, Agung Yudha, mengatakan, melakukan pemblokiran untuk melawan peredaran berita palsu atau hoax di media sosial (Medsos) yang banyak diambil dari media online, dinilai bukanlah langkah yang efektif. Menurutnya, penyebaran hoax yang masif dalam beberapa tahun belakangan ini justru harus dilawan dengan konten-konten positif yang diproduksi oleh media online.

"Kalau dulu musuh kita adalah spam, sekarang ini selain spam ada juga hoax yang sangat masif. Ketimbang pemblokiran dan penapisan, kami lebih percaya bahwa memborbardir media dengan konten-konten positif bisa lebih efektif dalam menekan peredaran hoax," ujar Agung Yudha di acara Deklarasi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa (18/4).

Mengenai adanya pengguna Twitter yang ikut menyebarkan berita hoax atau menuliskan ujaran kebencian, Agung meminta partisipasi dari masyarakat agar melaporkan akun tersebut kepada Twitter, sehingga konten yang dituliskannya tidak menyebar semakin luas dan menjadi viral.

"Terkait hoax, di Twitter sebetulnya sudah ada aturannya dan user kita patuh pada hal itu. Saya juga meminta bantuan kepada para user agar tidak segan-segan melaporkan akun yang melakukan pelanggaran, baik itu ke Twitter atau kalau melanggar hukum pidana bisa dilaporkan secara hukum," tuturnya.

Perwakilan Twitter Asia Pacific dan Twitter Indonesia beberapa waktu lalu juga sudah melakukan pertemuan khusus dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, untuk membahas penanganan berita hoax yang marak beredar di medsos.

Dalam pertemuan tersebut, Twitter berkomitmen untuk membantu pemerintah Indonesia dalam meningkatkan literasi digital, serta merespon lebih cepat setiap laporan adanya akun yang bertentangan dengan peraturan di Indonesia.



Herman/FER

BeritaSatu.com