Shipper Bantu E-Commerce Atasi Kendala Logistik

Shipper Bantu E-Commerce Atasi Kendala Logistik
Co-Founder dan CEO Shipper, Budi Handoko. ( Foto: BeritaSatu Photo / Herman )
Herman / YUD Rabu, 31 Januari 2018 | 17:05 WIB

Jakarta - Perkembangan industri e-Commerce di Indonesia masih menghadapi sejumah tantangan, salah satunya persoalan logistik. Urusan pengiriman barang seringkali menjadi masalah yang menghambat jalannya bisnis. Misalnya harus mengantar barang pesanan ke penyedia layanan logistik yang kerap menyita waktu, hingga melakukan tracking pengiriman. Belum lagi apabila ada masalah dalam proses pengiriman dan harus berkoordinasi dengan customer service.

Untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut, perusahaan rintisan (startup) Shipper membuat sebuah terobosan dengan menyediakan plaform online Shipper.id. Platform tersebut menyediakan layanan perbandingan harga dari berbagai penyedia jasa logistik di Indonesia, penjemputan barang (pick-up) tanpa biaya tambahan, hingga tracking atau pelacakan pengiriman barang.

"Dengan adanya Shipper, penjual online bisa lebih fokus dengan bisnisnya karena tidak perlu repot-repot lagi untuk mengantar barang pesanan. Mereka juga bisa membandingkan harga pengiriman dari setiap penyedia jasa logistik, sehingga bisa mendapatkan harga yang terbaik," kata salah satu pendiri Shipper, Budi Handoko, di selasa acara peresmian EV Hive @ Pos Indonesia, di Jakarta, Rabu (31/1).

Budi menambahkan, saat ini Shipper telah bekerja sama dengan 19 penyedia jasa logistik seperti JNE, J&T, Tiki, RPX, Wahana, Sicepat, Lion Parcel, Ninja Xpress, Grab Parcel, AtriXpress, aCommerce, ARK Express, Popbox, FedEx, DHL, Aramex and iCommerce, hingga Pos Indonesia. Melalui situs Shipper.id, pengguna bisa membandingkan harga pengiriman barang dari ke-19 penyedia jasa logistik tersebut.

"Shipper saat ini sudah hadir di lebih dari 40 kota, paling banyak di pulau Jawa. Di setiap kota, kami memiliki beberapa kurir yang akan melakukan penjembutan barang. Setelah itu kurir kami akan langsung mengantar barang tersebut ke hub kami, kemudian akan diberikan ke penyedia jasa logistik yang dipilih. Tidak ada biaya tambahan untuk penjemputan barang karena model bisnis kami dapat revenue sharing dari penyedia jasa logistik," jelas Budi.

Layanan Shipper diluncurkan pertama kali pada 4 Oktober 2017. Di tahun ini, Shipper menargetkan sudah bisa hadir di 200 kota di seluruh Indonesia. Menurut Budi, ekspansi akan lebih banyak dilakukan di kota-kota di pulau Sumatera, Kalimantan, dan juga Bali.



Sumber: BeritaSatu.com