Lima Kunci Melawan Hoax di Media Sosial

Lima Kunci Melawan Hoax di Media Sosial
Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Niken Widiastuti ( Foto: Herman / Herman )
Herman / MPA Jumat, 14 September 2018 | 19:30 WIB

Jakarta - Di era digital seperti saat ini, berita palsu atau hoax bisa dengan cepatnya menyebar di media sosial. Tanpa melakukan verifikasi dengan membaca sumber-sumber lain yang terpercaya, sebuah informasi di media sosial begitu mudahnya disebarluaskan.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Niken Widiastuti menyampaikan, pola komunikasi di dunia maya yaitu 10-to-90. Artinya 10% pengguna memproduksi konten, kemudian 90% tanpa disuruh ikut menyebarkan konten tersebut. Celakanya, konten-konten yang disebarkan tersebut kebanyakan merupakan berita hoax.

"Untuk melawan peredaran berita hoax, pengguna media sosial harus menerapkan nilai-nilai READI, yaitu Responsibility, Empathy, Authenticity, Discernment, dan Integrity," kata Niken Widiastuti, di acara Diskusi Literasi Media Digital, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (14/9).

Niken menjelaskan, Responsibility atau tanggung jawab artinya harus berpikir dan bertanggung jawab terhadap konten yang diunggah. Empathy (empati) maksudnya harus berpikir dan berempati akan akibat konten yang diunggah terhadap perasaan orang lain.

Kemudian, authenticity atau otentik berarti harus tetap otentik dan siap berjaga terhadap semua konten yang diunggah, Discernment (kearifan) artinya harus kritis mengevaluasi informasi atau konten online yang diperoleh sebelum mengambil tindakan terhadapnya, dan terakhir integrity atau integritas yang bermakna harus melakukan hal yang benar, berani menyuarakan kebenaran, dan melawan perilaku negatif di dunia online.

"Nilai-nilai utama ini harus kita terapkan dalam bermedia sosial, sehingga ke depannya dunia maya dan dunia nyata akan lebih sehat," tutur Niken.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE