Facebook Perluas Program Fact Checker untuk Foto dan Video

Facebook Perluas Program Fact Checker untuk Foto dan Video
Facebook. ( Foto: AFP )
Herman / YUD Jumat, 14 September 2018 | 20:03 WIB

Jakarta - Facebook mengumumkan telah memperluas program Third Party Fack Checker untuk menghalau peredaran konten palsu atau hoax di platform mereka. Tidak hanya meninjau dan menilai akurasi artikel yang telah menjadi konsumsi publik, Facebook juga memperluas program ini untuk konten foto dan video.

Dijelaskan oleh Product Manager Facebook, Antonia Woodford, sama seperti yang dilakukan Facebook saat meninjau artikel, Facebook juga menciptakan model mesin pembelajaran (machine learning) menggunakan berbagai sinyal yang diterima, termasuk laporan dari pengguna Facebook, untuk mengidentifikasi konten foto dan video yang berpotensi mengandung informasi yang salah.

Facebook kemudian mengirimkan foto dan video tersebut kepada fact-checker atau pihak ketiga untuk mereka tinjau lebih lanjut, atau mereka sendiri juga bisa menemukan konten tersebut. Kebanyakan mitra third-party fact checker memiliki keahlian untuk mengevaluasi foto dan video. Selain itu, mereka juga telah dilatih untuk menggunakan teknik verifikasi visual, seperti pencarian gambar terbalik dan menganalisis metadata gambar, seperti kapan dan di mana sebuah foto maupun video diambil.

"Fact-checkers bisa menilai kebenaran atau kepalsuan foto maupun video dengan menggabungkan teknik verifikasi ini dan praktik jurnalistik lainnya, seperti mendalami lebih jauh menggunakan riset dari para ahli, akademisi atau lembaga pemerintah," terang Antonia Woodford melalui keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Jumat (14/9).

Facebook juga memanfaatkan teknologi lain agar bisa lebih baik lagi mengenali konten palsu dan informasi menyesatkan. Sebagai contoh, Facebook menggunakan optical character recognition (OCR) untuk mengekstrak teks dari foto dan membandingkannya dengan judul dari artikel fact-checker. Teknologi tersebut akan membantu Facebook mengidentifikasi foto dan video yang mencurigakan agar dapat segera dikirimkan ke fact-checker untuk ditinjau lebih lanjut secara manual.

Hasil temuan penelitian yang dilakukan bersama sejumlah mitra selama beberapa bulan sejak Maret lalu menunjukkan bahwa misinformasi dalam foto dan video bisa dibagi dalam tiga kategori, yaitu telah dimanipulasi, tidak sesuai konteks, dan klaim teks atau audio.

 



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE