Ilustrasi Twitter
Menayangkan video serta informasi terbaru dari medan tempur Gaza

Perang telah memasuki babak baru dalam sejarah. Jika sebelumnya kita hanya melihat baku tembak dan saling tukar rudal, kali ini dalam konflik antara Israel dan Hamas di Palestina, juga terjadi saling tukar serangan via Twitter dan YouTube.

Israel lewat akun juru bicara resmi militer, @IDFspokeperson, sejak 14 November telah mengumumkan operasi militernya via Twitter operasi militernya di Gaza. IDF juga mengunggah sejumlah video serangan pesawat tempurnya ke Jalur Gaza, termasuk serangan yang menewaskan komandan senior Hamas Ahmad Jaabari, Rabu (14/11) kemarin.

"The first target, hit minutes ago, was Ahmed Al-Jabari, head of the #Hamas military wing," tulis IDF dalam akunnya 14 November pukul 9.31 malam.

IDF juga menayangkan sejumlah video serangan ke posisi persenjataan Hamas ke YouTube dan menyampaikan ancaman kepada seluruh pimpinan Hamas via Twitter.

Tetapi bagaimana dengan Hamas?

Uniknya sayap militer Hamas, Alqassam Brigades juga punya akun Twitter resmi. Tidak hanya itu, akun itu juga membalas dan menyebut akun IDF dalam tweet-tweet-nya, yang tentu berisi nada ancaman juga.

"@idfspokesperson Our blessed hands will reach your leaders and soldiers wherever the are (you open hell gates on yourselves)," tulis akun Alqassam Brigades pada 15 November kemarin di hadapan lebih dari 12.000 follower-nya.

Jika IDF mengunggah video serangannya di YouTube, Alqassem Brigades juga mengunggah serangan roket-roket "Fajer 5" mereka ke Tel Aviv, Israel di YouTube.  Alqassem juga menampilkan video pesawat tanpa awak Israel yang ditembak jatuh oleh Hamas.

Sebenarnya aksi IDF dan Alqassem Brigades itu telah melanggar aturan Twitter sendiri yang melarang kekerasan dan ancaman diunggah ke situs media sosial tersebut. Tetapi menurut analis media Benedict Evans dari Enders Analysis, yang diwawancari BBC, mengatakan perang online di Gaza itu menempatkan Twitter pada posisi sulit.

"Mereka ingin tetap menjaga posisinya sebagai penyedia layanan yang tidak mengedit konten, tetapi di sisi lain mereka punya aturan dan persyaratan yang harus ditaati," kata Evans.

Penulis: