Asosiasi Game Soroti Aturan Data Center

Asosiasi Game Soroti Aturan Data Center
Ilustrasi dunia digital. ( Foto: Antara )
Edo Rusyanto / EDO Jumat, 23 November 2018 | 20:16 WIB

 

Jakarta - Para pelaku industri kreatif menegaskan proses lokalisasi data (data localization) di Indonesia sulit diterapkan karena pasar internet sudah bersifat global.

Mereka menilai rencana pemerintah mengelompokkan data yang wajib ditempatkan di Indonesia sesuai draf revisi Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE) sudah tepat.

Ketua Asosiasi Game Indonesia, Narenda Wicaksono mengatakan, mayoritas developer game Tanah Air membidik pasar global, meskipun ada sebagian yang manargetkan pasar lokal. Oleh karenanya, kewajiban data center berada di Indonesia akan sulit diterapkan.

“Game itu biasanya memiliki market global. Jadi kita lebih menyukai penempatan data center di luar negeri. Kami misalnya, menyimpan di Google Playstore atau Sony, mereka semua di luar negeri. Kalau pemerintah berani tutup Google Playstore, ya silakan," kata Narenda, dalam siaran pers, di Jakarta, Jumat (23/11).

Dalam draf revisi PP 82 tahun 2012, pemerintah membagi klasifikasi data elektronik menjadi tiga yakni Data Strategis, Berisiko Tinggi, dan Berisiko Rendah. Hanya Data Elektronik Strategis yang harus berada di Indonesia.

Adapun penempatan Data Berisiko Tinggi dan Rendah harus memastikan efektivitas dari pengawasan sektor industri masing-masing. Aturan teknis mengenai pengelolaan data akan dibuat oleh masing-masing sektor industri. Narenda menegaskan, klasifikasi data pada industri game bukan data user yang perlu dianggap krusial sehingga wajib disimpan di Indonesia.

Saat ini, industri dan pasar game Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Hasil penelitian dari lembaga riset industri game global, Newzoo, seperti dikutip Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyebutkan pasar game Indonesia memiliki sekitar 43,7 juta gamer dan berpotensi menghasilkan hingga USD 880 juta atau setara Rp 12,5 triliun (kurs Rp 14.300) pada 2017 lalu. “Untuk mendukung industri game, kami juga membutuhkan server yang kuat,” tegas Narenda.



Sumber: siaran pers
CLOSE