Kondisi pasca ledakan di antara asrama mahasiswa dan Fakultas Arsitektur Universitas Aleppo, Suriah.

London - Perang yang terjadi di Suriah memaksa ribuan anak meninggalkan rumahnya dan akhirnya hanya tinggal di taman, gudang, dan gua-gua, sementara sebagian anak lainnya dipaksa untuk menjadi tentara dan kuli pengangkut barang.

Menurut laporan organisasi amal Save the Children, sekitar 2 juta anak-anak terperangkap di negara itu dengan risiko kesehatan, termasuk malnutrisi, penyakit dan trauma, serta akses yang terbatas untuk mendapat perawatan kesehatan.

"Ini adalah perang yang secara tidak proporsional mempengaruhi anak-anak," kata CEO Save the Children, Jasmine Whitbread.

"Masa kanak-kanak yang yang polos diganti dengan kenyataan kejam bahwa mereka harus bertahan dalam perang yang keji," ujarnya.

Sejumlah wawancara dengan anak-anak menunjukkan bahwa mereka menjadi sasaran perang. Paling tidak sektiar 2.000 sekolah di negara itu telah rusak selama dua tahun peperangan yang telah menewaskan 70.000 orang.

Dua pertiga dari orang yang disurvei mengatakan mereka berada dalam situasi yang mengerikan dan sepertiganya berkata bahwa mereka telah dipukul, ditendang dan ditembak.

Banyak anak-anak yang memberikan tanda-tanda kesulitan emosional. Sekitar sepertiga dari mereka mengatakan mereka telah terpisah dari anggota keluarga mereka, sementara tiga perempat anak-anak mengatakan kawan dekat atau keluarga mereka telah meninggal.

Jumlah anak-anak yang terbunuh dalam perang yang berkembang menjadi perang sektarian belum diketahui. Namun, laporan berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa jumlah anak-anak yang menjadi korban bakar, luka tembak dan ledakan semakin bertambah.

Para kelompok bersenjata juga menggunakan anak-anak di bawah umur 18 tahun sebagai penyelundup, buruh, penjaga, informan atau petarung.

Berbagai keluarga juga menikahkan anak-anak perempuan mereka lebih awal untuk melindungi mereka dari ancaman kekerasan seksual.

Setengah juta pengungsi Suriah merupakan anak-anak, dan banyak dari mereka yang terpisah dari salah satu atau kedua orangtuanya.

Sehingga, organisasi amal ini mendesak Dewan Keamaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengatasi perpecahan dua kelompok di Suriah dan segera menyatukan mereka untuk mengakhiri perang.

Penulis: Febriamy Hutapea/FEB

Sumber:Bloomberg