Ilustrasi rudal Korea Utara.

Seoul - Korea Utara (Korut) memutuskan saluran terakhir komunikasi militer dengan Korea Selatan (Korsel), Rabu (27/3).

Korut menuduh Presiden Korsel Park Geun-hye mengambil kebijakan keras, sama dengan pendahulunya. Korut juga menegaskan perang dapat pecah setiap saat.

Pemutusan saluran komunikasi dengan Korsel merupakan langkah terbaru Pyongyang dalam serangkaian ancaman.

Korut telah berhenti menanggapi panggilan hotline telepon ke militer Amerika Serikat (AS) yang mengawasi Zona Demiliterisasi (DMZ) dan garis Palang Merah yang digunakan oleh pemerintah kedua negara Korea.

Meski Korut dan AS tidak memiliki hubungan diplomatik, saluran komunikasi itu memungkinkan kontak antara Korut-AS.

Sebelumnya Korut memperingatkan AS dan Korsel soal kemungkinan serangan nuklir. Korut telah menuduh AS menyebarkan permusuhan di Semenanjung Korea, pasca uji coba nuklir ketiga Korut.

Korut mengecam akan menyerang wilayah negara AS dan pangkalan militer AS di Korsel.

“Dalam situasi ketika perang dapat pecah setiap saat, tidak ada kebutuhan untuk menjaga komunikasi militer utara dan selatan, yang diletakkan di antara kedua sisi militer. Tidak ada saluran dialog apapun dan komunikasi berarti antara DPRK (Republik Demokratik Rakyat Korea) dan AS, dan antara Utara dan Selatan,” demikian pernyataan kantor berita Korut, KCNA.

Penulis: D-11/FEB

Sumber:Reuters, AFP