Ilustrasi pelecehan seksual dengan wanita sebagai korban.

New York - Kabar mengejutkan datang dari New Jersey, Amerika Serikat (AS), di mana para wanita muda Meksiko dipaksa melakukan hubungan seks dengan sekelompok petani. Tidak tanggung-tanggung, banyak wanita muda tersebut dipaksa melayani 25 pria dalam waktu sehari.

Hal tersebut memicu kemarahan dan protes para aktivis perempuan yang mendesak pemerintah AS untuk mengambil langkah melindungi perempuan muda dan para imigran yang datang ke negara itu.

"Banyak warga AS meyakini bahwa hal ini hanya terjadi di negara-negara berkembang, tapi ternyata para perempuan di AS juga menghadapi kekerasan seksual setiap harinya," kata aktivis perempuan Mary Wolfe di San Fransisco.

Seperti dilansir kantor berita Associated Press, banyak perempuan yang dikurung di rumah bordil kumuh di wilayah New York.

Jasa layanan wanita tersebut diiklankan melalui "chica cards", seperti kartu nama yang diberikan kepada orang-orang yang melewati jalan-jalan. Para perempuan tersebut dibayar sangat kecil, bahkan ada yang tidak dibayar sama sekali.

Gugatan kriminal telah didaftarkan terhadap 13 orang yang telah didakwa dengan penyelundupan puluhan wanita ke AS dan memaksa mereka menjadi pekerja seks.

Sebagian besar terdakwa hadir dalam persidangan federal di Kota New York pada Rabu (1/5) dan mereka menghadapi dakwaan ganda, termasuk perdagangan perempuan untuk aksi prostitusi.

Para korban yang mau dibawa ke AS dipikat dengan janji-janji muluk, namun kemudian menyerahkan mereka ke pihak lain dan membuat hidup mereka seperti di neraka, kata Jaksa AS Preet Bharara dalam pernyataan tertulisnya.

Penyelidikan yang dilakukan juga bertujuan untuk memblokir jalur perdagangan seks yang digunakan untuk mengeksploitasi para korban yang kebanyakan berasal dari Tenancingo, Meksiko.

Tenancingo, kota miskin di negara bagian Tlaxcala, telah lama dikenal sebagai surga bagi para gigolo yang menggunakan ancaman, penganiayaan dan janji-janji palsu akan menikahkan atau memberikan pekerjaan kepada korban yang kebanyakan masih remaja.

Padahal para wanita tersebut akhirnya dijadikan budak seks di Kota Meksiko dan kota-kota besar lainnya di AS.

"Kita harus memerangi kekerasan seksual di AS dan di mana saja jika kita memang ingin benar-benar menjadi pemimpin masalah HAM," kata Wolfe.

"Ini adalah hal yang tak bisa diterima bahwa kita berkotbah kepada dunia, tapi aktivitas kriminal seperti ini terjadi di lingkungan kita sendiri," ujarnya.

Penulis: Febriamy Hutapea/FEB

Sumber:Bikya News, AP