Ilustrasi penanganan virus flu burung di China.

Beijing - Wabah virus flu burung dilaporkan menyebar di wilayah terpencil Tibet, sementara korban tewas akibat flu burung H7N9 di China semakin bertambah menjadi 35 jiwa.

Departemen Pertanian Tibet melaporkan wabah virus flu burung H5N1 menyebar di antara ayam-ayam.

Sebanyak 35 ekor ayam di sebuah peternakan di desa Kabupaten Mainling, Nyingchi, menunjukkan gejala flu burung H5N1 dan menyebabkan kematian pada burung, Selasa (14/5).

Laporan Referensi Influenza Avian Nasional mengonfirmasi bahwa virus itu adalah virus lama H5N1 setelah berbagai sampel dikumpulkan di peternakan.

Otoritas lokal setempat telah menutup dan mensterilkan daerah yang terinfeksi. Total 372 ayam, yang diduga terinfeksi, telah dimusnahkan dan dibuang untuk mencegah penyakit menyebar.

Tiongkok bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menugaskan tim peneliti untuk menemukan sebuah cara untuk mengobati penyakit mematikan itu, serta untuk mengembangkan sebuah vaksin. Kementerian Kesehatan Tiongkok juga telah menutup pasar unggas sebagai pencegahan.

Sejak infeksi pertama virus H7N9 dilaporkan Maret lalu, otoritas Tiongkok telah mengkonfirmasi total 130 kasus terkait virus flu burung. Kantor berita Xinhua mencatat bahwa 57 kasus terinfeksi telah pulih.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (AS) menyatakan virus flu burung saat ini tidak dapat memulai pandemi, tetapi memperingatkan tidak ada jaminan virus itu tidak bermutasi dan menyebabkan sebuah pandemi serius.

Laporan sebelumnya mencatat bahwa 40 persen orang terinfeksi H7N9 tidak memiliki kontak langsung dengan unggas.

Penulis: SP/D-11/FEB

Sumber:Xinhua,AFP,Reuters