Seorang pemberontak Suriah memanggul roket peluncur granat di kota Minbej pada 10 Oktober 2012.

Damaskus – Israel telah memperingatkan bahwa mereka “akan melakukan apa yang harus dilakukan” jika Rusia berjanji mengirimkan rudal-rudal anti-pesawat pada sekutu Suriah-nya yang dilanda perang, di tengah meningkatnya kekhawatiran alur konflik yang lebih luas karena tumpahnya pertempuran ke Libanon.

Israel mengatakan pada Selasa (28/5), mereka akan bertindak jika pengiriman Rusia terus berjalan, sementara komandan tinggi pemberontakan Suriah memberikan Hizbullah sebuah ultimatum waktu selama 24 jam untuk menghentikan bantuan kepada pasukan rezim pemerintah Suriah.

Radio publik mengatakan pada Rabu (29/5), bahwa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah memerintahkan kabinetnya untuk tetap tenang terhadap masalah pengiriman rudal Rusia.

Pernyataannya tersebut disampaikan setelah beberapa menteri mengkritik kesepakatan persenjataan Moskow dengan Damaskus dan meningkatkan kemungkinan respon Israel ketika negara Yahudi tersebut merasa terancam.

Menteri Pertahanan Moshe Yaalon pada Selasa telah memperingatkan bahwa Israel akan “melakukan apa yang harus dilakukan” jika Rusia berjanji mengirim rudal anti pesawat pada Presiden Suriah Bashar al-Assad.

“Pengiriman tersebut belum terjadi, dan saya berharap mereka tidak melakukannya. Tapi jika, bernasib sial, mereka akan tiba di Suriah, kita akan mengetahui apa yang harus dilakukan,” kata Yaalon kepada wartawan.

Israel telah meluncurkan beberapa serangan udara di dalam Suriah pada tahun ini, menargetkan pada konvoi yang mengangkut persenjataan untuk Hizbullah, musuh bebuyutannya di Libanon

Menteri Urusan Intelijen dan Strategi Yuval Steinitz juga telah menegskan bahwa Israel akan “bereaksi pada setiap ancaman”.

“Saya berharap Damaskus mengerti hal tersebut. Kami akan bereaksi secara tegas,” ujarnya kepada wartawan pada Selasa, dengan menjelaskan bahwa pengiriman rudal-rudal anti pesawat S300 yang direncanakan Rusia sebagai bentuk “kesalahan secara moral”.

Perkembangan tersebut memicu ketegangan setelah Uni Eropa (UE) memutuskan untuk mencabut embargo pemasokan senjata kepada pemberontak Suriah, pihak oposisi bereaksi dengan hati-hati dalam melangkah.

Rezim Suriah bergabung dengan sekutunya Rusia dalam mengecam keputusan Uni Eropa sebagai sebuah “halangan” untuk upaya perdamaian, seraya menuduh blok tersebut mendukung dan mendorong “teroris”.

Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa mereka telah mendukung langkah Uni Eropa karena menunjukkan “dukungan penuh” bagi para pemberontak, meskipun mereka sendiri menolak untuk menyediakan senjata yang dikhawatirkan akan berakhir di tangan para jihad.

Pencabutan embargo tersebut “mengirimkan pesan kepada rezim Assad bahwa dukungan untuksatu-satunya oposisi akan meningkat”, kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS (AS) Patrick Ventrell.

Sementara itu, blok oposisi utama Suriah telah mendesak UE untuk segera memasok para pemberontak yang memerangi pasukan Presiden al-Assad dengan senjata canggih untuk membantu mereka menggulingkan rezimnya.

Seruan yang dilakukan oleh Koalisi Nasional Suriah tersebut menyusul keputusan UE untuk mencabut embargo senjatanya terhadap Suriah yang telah berakhir, membuka jalan bagi masing-masing dalam blok 27 anggota untuk mengirimkan persenjataan kepada para penentang Assad. Namun, langkah UE pada Senin (27/5), kemungkinan berdampak kecil pada konflik Suriah yang berlangsung 2 tahun, karena tidak ada negara tunggal Eropa yang akan mengirimkan senjata mematikan kepada pemberontak dalam waktu dekat.

Dalam sebuah pernyataan pada Selasa malam waktu setempat, koalisi oposisi Suriah yang didukung Barat mendesak UE agar segera mengirimkan “senjata khusus untuk mengusir serangan sengit yang dilancarkan terhadap warga sipil tak bersenjata” oleh rezim Assad, sekutu-sekutunya dalam kelompok Hizbullah militan Libanon dan para pendukung Iran mereka.

“Pihak Koalisi mengakui bahwa keputusan ini merupakan bagian dari berbagai upaya serius oleh UE untuk mendukung rakyat Suriah di sepanjang kesulitan dalam pemberontakan,” ungkap kelompok oposisi. “Namun, kendati pentingnya keputusan ini, kata-kata harus diperkuat dengan tindakan.”

Sedangkan perselisihan antara Rusia dan Barat tentang mempersenjatai pihak yang berperang di Suriah pada Selasa telah meredupkan prospek untuk pembicaraan damai yang yang diliputi kekacauan antara para musuh politik Presiden al-Assad.

Rusia, yang telah melindungi Assad secara diplomatis sejak meletusnya pemberontakan Suriah pada Maret 2011, mengatakan akan memberikan sistem pertahanan udara S-300 yang canggih kepada Damaskus meskipun AS, Perancis, dan Israel keberatan terhadap hal itu, dengan alasan bahwa hal itu akan membantu “para pemarah” berniat untuk melakukan intervensi di dalam konflik.

Moskow juga menuduh Uni Eropa “melempar bensin pada api” dan “merusak” peluang untuk mengadakan konferensi perdamaian di Jenewa dengan membiarkan embargo senjata di Suriah berakhir.

Perancis dan Inggris, kekuatan militer terkuat Uni Eropa dan pendukung yang paling bersemangat mencabut embargo, mengatakan mereka belum memutuskan untuk mempersenjatai pemberontak Suriah, tetapi ingin menempatkan Assad di bawah tekanan untuk bernegosiasi.

“Fokus kami dalam beberapa minggu mendatang adalah konferensi Jenewa,” kata Menteri Luar Negeri Inggris William Hague. ”Apa yang dilakukan ini adalah mengirimkan sinyal dengan keras dan jelas untuk rezim dan ... memperjelas tentang fleksibilitas yang kita miliki jika menolak untuk bernegosiasi.” pya

Penulis: PYA/FMB

Sumber:afp/ap/rtr