Pengungsi Syiah

Jenewa - Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pengungsi (UNHCR) mengatakan sebanyak 45,2 juta orang terpaksa mengungsi akibat perang dan krisis politik di seluruh bumi pada 2012. Angka itu termasuk 28,8 juta pengungsi domestik, 15,4 juta pengungsi lintas perbatasan, 937.000 pencari suaka.

UNHCR mengungkapkan satu orang terpaksa meninggalkan rumahnya setiap 4,1 detik pada 2012. Sebanyak 1,1 juta orang telah melarikan diri melewati perbatasan internasional pada 2012, sementara 6,5 juta orang mengungsi dari tanah air mereka.

“Ini berarti setiap 4,1 detik. Jadi setiap kali Anda berkedip, orang lain terpaksa mengungsi,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk pengungsi, Antonio Guterres kepada wartawan, Selasa (18/6) waktu setempat.

Jumlah pengungsi di 2012 merupakan tertinggi sejak 1994 ketika terjadi pembantaian Rwanda dan pertumpahan darah di bekas Yugoslavia. Guterres mendesak masyarakat internasional untuk bahu-membahu membantu para pengungsi.

Guterres mengatakan perang adalah alasan utama tingginya jumlah pengungsi dan orang-orang terlantar. Sebanyak 50 persen berada dalam situasi perang di Afghanistan, Somalia, Irak, Sudan dan Suriah.

Afghanistan tetap menjadi produsen terbesar jumlah pengungsi di dunia. Afghanistan telah berada dalam posisi itu selama 32 tahun. Di seluruh dunia, satu dari empat pengungsi adalah warga Afghanistan.

Guterres juga mempersalahkan konflik di Mali, Republik Demokratik Kongo, dan Republik Afrika Tengah atas bertambahnya jumlah pengungsi.

“Kita menyaksikan penggandaan konflik baru, dan tampaknya konflik lama tidak pernah berakhir,” ucapnya.

Guterres menjelaskan jumlah orang yang pergi mengungsi karena perang sipil Suriah melonjak dari 650.000 pada akhir 2012 menjadi 1,6 juta sekarang. UNHCR memperingatkan jumlah pengungsi Suriah bisa meningkat mencapai 3,5 juta pada akhir tahun ini. Ada juga kekhawatiran bahwa jumlah pengungsi bisa mencapai 4,25 juta.

Pengungsi Suriah telah membanjiri negara-negara tetangganya, Lebanon, Yordania, Turki dan Irak.

Penulis: SP/D-11/FEB

Sumber:AFP