Arab Saudi Minta Negara-negara Arab Dukung Agresi Militer AS ke Suriah

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al Faisal (AFP)

Oleh: Liberty Jemadu | Senin, 2 September 2013 | 06:34 WIB

Kairo - Arab Saudi dan pemimpin koalisi oposisi nasional Suriah, pada Minggu (1/9), meminta negara-negara Arab mendukung agresi militer Amerika Serikat ke Suriah.

Permintaan itu disampaikan secara terpisah oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al Faisal, dan kepala koalisi oposisi Ahmad al Jarba dalam pertemuan tingkat tinggi para menteri luar negeri negara-negara Liga Arab di Kairo, Mesir.

"Penentangan terhadap aksi internasional hanya akan mendorong rezim (Bashar al Assad) untuk terus melakukan aksi kriminalnya. Ini saatnya untuk meminta komunitas internasional untuk menjalankan kewajibannya dan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan," kata Pangeran Saud.

Sementara itu perwakilan oposisi atau pemberontak Suriah meminta negara-negara Arab mendukung operasi militer di Suriah untuk menghentikan "mesin perang rezim Assad" yang merobek-robek negeri itu.

"Saya berdiri di hadapan Anda, meminta belas kasih persaudaraan dan kemanusiaan Anda, dan meminta Anda mendukung operasi (militer) melawan mesin perang yang menghancurkan (di Suriah)," kata Jarba.

Tadinya pertemuan tingkat tinggi menteri luar negeri Liga Arab akan digelar Selasa (4/9) untuk membahas rencana serangan militer AS dan Prancis atas Suriah. Serangan dipicu dugaan penggunaan senjata kimia oleh tentara Suriah dalam sebuah serangan di luar kota Damaskus pada 21 Agustus silam.

Pertemuan itu dimajukkan ke Minggu (1/9) setelah Presiden AS, Barack Obama, mengatakan dia akan menunda serangan dan akan meminta persetujuan kongres AS sebelum menjatuhkan bom-bomnya di atas Suriah.

AS sebelumnya mengatakan negara-negara Arab adalah sekutu potensial dalam rencana operasi militernya ke Suriah. Hanya saja beberapa negara anggota Liga Arab seperti Yordania, Libanon, dan Irak menolak rencana serangan itu.

Adapun pendukung utama serangan militer atas Suriah adalah Arab Saudi dan Qatar.


Sumber: AFP
ARTIKEL TERKAIT