Yaman Selidiki Kawin Paksa Gadis 8 Tahun i

Sejumlah perempuan Yaman berunjuk rasa mendesak diberlakukannya undang-undang untuk melarang pernikahan anak di bawah umur.

Oleh: / YS | Sabtu, 14 Sepember 2013 | 03:54 WIB

Hajjah - Pemerintah Yaman menyatakan tengah menyelidiki kematian anak perempuan berusia delapan tahun karena pendarahan pada malam perkawinannya di Kota Meedi, Provinsi Hajjah, Yaman, pekan lalu.

Pemerintah Yaman mengatakan akan menangani kasus itu dengan serius dan akan menyeret mereka yang bertanggung jawab.

Pegiat hak asasi Yaman Arwa Othman mengatakan, anak usia delapan tahun itu meninggal setelah berhubungan badan dengan suami yang berumur lima kali usianya.

Kepala urusan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton mendesak pemerintah, Jumat (13/9) untuk menyelidiki kasus itu.

"tanpa penundaan dan menindak semua yang bertanggung jawab atas kejahatan itu," ujarnya.

Dalam satu pernyataan, Ashton mengatakan, Pemerintah Yaman harus menetapkan undang-undang berisi usia minimal untuk menikah.

Banyak keluarga miskin di Yaman mengizinkan anak perempuan mereka menikah demi uang.

Asisten Perdana Menteri Mohammed Salem mengatakan, Pemerintah Yaman tengah menangani kasus itu secara serius dan mereka yang bertanggung jawab akan diadili.

Menurut laporan PBB, sekitar setengah dari penduduk Yaman yang berjumlah 24 juta jiwa mengalami kekurangan pangan dan air bersih.

Human Rights Watch juga mendesak pemerintah Yaman untuk melarang pernikahan anak di bawah usia 18 tahun.
Organisasi hak asasi ini mengatakan sekitar 14% perempuan Yaman dinikahkan sebelum usia 15 tahun dan 52% sebelum usia 18 tahun.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang bocah berusia delapan tahun yang diketahui teridentifikasi dengan sebutan Rawan, meninggal dunia karena pendarahan internal saat berhubungan seks dengan suaminya yang berusia 40 tahun pada malam pernikahan mereka.

Peristiwa ini disembunyikan pihak berwenang setempat. Namun, seorang aktivis sosial dan dua warga lokal mencuatkannya dan membangkitkan kembali protes besar-besaran di media massa tentang perlunya larangan pernikahan dini.

"Pada malam pernikahan dan setelah hubungan seksual, gadis itu menderita pendarahan dan pecahnya rahim yang menyebabkan kematiannya. Mereka membawanya ke klinik tetapi petugas medis tidak bisa menyelamatkan hidupnya," tutur Othman.

Dijelaskan, pihak berwenang tidak mengambil tindakan apapun terhadap keluarga gadis itu atau suaminya.

Sebelumnya, seorang pejabat keamanan di Kota Provinsi Haradh membantah adanya peristiwa itu. Namun, dia tidak ingin namanya disebutkan karena mengaku tidak berwenang berbicara kepada wartawan.

Dua warga Meedi saat dihubungi Reuters mengonfirmasi adanya peristiwa tersebut. Dua warga itu mengaku, kepala suku setempat mencoba menutupi insiden tersebut ketika berita itu muncul ke permukaan. Bahkan, kepala suku itu mengancam seorang wartawan lokal agar tidak memberitakan kasus itu.

Berdasarkan catatan, banyak keluarga miskin di Yaman menikahkan anak perempuan mereka untuk menghemat biaya membesarkan anak. Pihak keluarga juga mendapat keuntungan dari uang mahar yang diberikan kepada anak gadisnya.


Sumber: bbc
ARTIKEL TERKAIT