Staf rumah sakit Medina membawa seorang pekerja bantuan yang terluka, setelah seorang lelaki bersenjata melepaskan tembakan kepada pekeraja bantuan Dokter tanpa Batas di Mogadishu(30/12)
Seorang pejabat keamanan dan sejumlah saksi melaporkan bahwa warga asing yang menjadi korban penembakan seorang pria bersenjata di Mogadishu akhirnya tewas.

"Dua pekerja bantuan ditembak mati di dalam kantor mereka di sini dan kami memperoleh laporan bahwa pembunuh mereka adalah seorang aparat keamanan di bangunan itu," kata pejabat keamanan pemerintah, Mohamed Ali.

Seorang saksi yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan, satu korban tewas seketika. Sedangkan, kata dia, korban lainnya menderita cidera parah dan kemudian tewas. "Satu orang tewas seketika, seorang lagi cedera parah dan tewas kemudian," katanya.

Sebelumnya, beberapa sumber di rumah sakit utama di Mogadishu, Medina, menyebutkan bahwa korban tewas adalah seorang lelaki kulit putih dan rekannya yang terluka adalah warga Indonesia. Namun belum ada konfirmasi resmi mengenai jati-diri mereka.

Warga Indonesia itu ditembak pada paha, peluru menembus sebuah pembuluh darahnya sehingga terjadi pendarahan hebat. "Ia cedera. Ia mengalami pendarahan serius namun masih hidup. Lelaki yang lain tewas namun mayatnya masih di sini," kata Dumiya Alim, seorang petugas medis di Medina.

Penembakan itu merupakan serangan terakhir terhadap para pejabat kemanusiaan di negara Tanduk Afrika tersebut, yang merupakan salah satu tempat paling berbahaya di dunia bagi pekerja bantuan.

Pekan lalu, seorang pria bersenjata membunuh tiga pekerja bantuan Somalia, termasuk dua staf Badan Pangan Dunia PBB, di Hiran, Somalia tengah.

Bulan lalu kelompok gerilya garis keras Al-Shabaab yang menguasai wilayah-wilayah di Somalia tengah dan selatan mengumumkan larangan terhadap 16 badan bantuan di wilayah kekuasan mereka.

Somalia kini dilanda kelaparan parah akibat kekeringan terburuk yang terjadi negara itu, dan PBB telah mengumumkan Mogadishu dan empat wilayah di Somalia selatan sebagai zona kelaparan serta memperingatkan bahwa kelaparan bisa meluas ke seluruh penjuru negara itu.

Kondisi itu diperumit oleh bentrokan-bentrokan yang terus terjadi antara pasukan Somalia serta Uni Afrika sekutunya dan gerilyawan Al-Shabaab.


Penulis: