Perayaan tahun baru di Seoul, Korea Selatan ditandai dengan pemukulan lonceng Boshingak.
Di sisi lain ada kecemasan yang terus membayangi.

Langit dunia diwarnai kembang api yang mewarnai perayaan menyambut tahun baru. Dari Selandia Baru hingga Times Square di New York, Amerika Serikat. Dunia menyambut lembaran baru dan mengusung asa masa depan yang lebih baik.  Selamat tinggal diucapkan kepada berbagai bencana, dari badai, gempa bumi, tsunami, hingga kekacauan ekonomi serta politik.

Di Auckland, Selandia Baru dan Sydney Australia, tidak kurang dari 1,5 juta orang menikmati seni kembang api yang kali ini bertema "Time to Dream". Jutaan orang lainnya berkumpul di Gerbang Brandenburg Berlin, Jerman. Selain pertunjukan kembang api selama sepuluh menit, warga Berlin juga dihibur oleh penampilan band legendaris Scorpoins.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan pergantian tahun di Times Square New York selalu menjadi pusat perhatian. Ratusan orang bahkan rela berkemah untuk mendapat tempat spesial saat bola kristal raksasa dijatuhkan dari ketinggian 122 meter yang sudah menjadi tradisi sejak 1907.

Di Korea Selatan, lonceng Boshingak di pusat kota Seoul dibunyikan 33 kali. Sedangkan di Jepang orang-orang menyantap semangkuk mi panjang bersama sebagai simbol penghubung ke tahun baru.

Kemeriahan juga dirasakan sekitar 400.000 orang yang memadati Victoria Harbour di Hong Kong untuk menyaksikan suguhan kembang api selama empat menit. Pertunjukan spektakuler yang menembakan kembang api dari sepuluh menara itu memakan biaya $1 juta.

Sementara itu, di Laos dan Kamboja, wihara-wihara membunyikan gol sebagayk seratus kali untuk mengusir seratus macam keburukan manusia.

Suasana pesta perayaan kental terasa di semua negeri. Malam menjadi benderang oleh terangnya lampu dan kembang api. Tapi, di sisi lain ada kecemasan yang terus membayangi.

"Apa yang saya lihat, harga melambung. Saya hanya berharap tetap bisa bekerja dan keluarga saya terus sehat," ujar Joaquin Cabina, seorang montir mobil di Madrid, Spanyol.

Para pemimpin dunia juga terkesan kurang optimistis menyambut tahun baru. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy malah memperingatkan jika krisis ekonomi Eropa belum usai. "Tahun 2012 akan menjadi tahun yang penuh risiko, sekaligus kesempatan."

"Tahun yang sulit tiba. Kami harus terus melanjutkan usaha. Agar apa yang sudah kita korbankan tidak sia-sia," ujar Lucas Papademos, Perdana Menteri Yunani.

Bagi sebagian besar warga dunia, 2011 terbilang tidak menyenangkan. Kesulitan hidup akibat krisis ekonomi dunia, bencana alam, meningkatnya eskalasi politik, dan lainnya membuat banyak yang ingin cepat menghapus kenangan dan berhadap 2012 menawarkan kebaikan.

"Saya sudah muak dengan tahun ini. Saya harap tahun depan akan lebih baik," ujar Sandra Cameron, wanita berusia 68 tahun yang Februari silam rumahnya terendam banjir yang melanda Queensland, Australia.

Harapan serupa datang dari penduduk Jepang yang terhantam gempa dan Tsunami yang menewaskan lebih dari 20.000 jiwa.

Satu hal yang pasti, dunia ingin membuka lembaran baru. Tahun baru merupakan titik akhir masa lalu yang buruk dan awal dari harapan.

Penulis:

Sumber:AP/Reuters