NY Times, AP, dan Media Besar Lainnya Menolak Je Suis Charlie

NY Times, AP, dan Media Besar Lainnya Menolak Je Suis Charlie
Sejumlah orang memegang poster bertuliskan 'Je Suis Charlie' (Saya Charlie) di Kedutaan Besar Prancis di Mexico City, sebagai bentuk dukungan terhadap korban serangan teroris yang menyerang kantor redaksi majalah Mingguan Charlie Hebdo di Paris, Rabu 7 Januari lalu. ( Foto: AFP Photo/Ronaldo Schemidt )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Senin, 12 Januari 2015 | 01:19 WIB

Jutaan orang di seluruh dunia mengikuti aksi solidaritas terhadap penembakan Charlie Hebdo, sebuah majalah satir dari Prancis, dengan menggunakan tagar "Je Suis Charlie/Saya adalah Charlie".

Aksi solidaritas "Je Suis Charlie" berpusat di Prancis dan dihadiri ratusan ribu, mungkin jutaan massa, dan puluhan pemimpin dunia, termasuk dari negara Islam seperti Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas.

Penembakan tersebut dilakukan oleh Kouachi bersaudara terhadap karyawan Charlie Hebdo dan menewaskan 17 orang. Di antara korban adalah seorang polisi Muslim bernama Ahmed Merabet yang mati dalam tugas karena membela kebebasan berpendapat Charlie Hebdo.

Kouachi bersaudara mengatakan aksi tersebut dilakukan karena Charlie Hebdo membuat karikatur yang mengejek figur sakral umat Muslim, Nabi Muhammad.

Namun tidak semua orang sependapat dengan aksi tersebut.

Produser Eksekutif Al Jazeera, Salah-Aldeen Khadr dalam surelnya berjudul "We Are Al Jazeera! (Kami adalah Al Jazeera)" yang ditujukan kepada seluruh Al Jazeera mengingatkan agar para koresponden dan pembawa berita berhati-hati dalam meliput tragedi tersebut.

"Membela kebebasan berpendapat di hadapan penindasan berbeda dengan hak menjadi orang yang menyebalkan dan ofensif. Hal itu (bersikap ofensif) adalah sifat yang kekanak-kanakan".

Surel internal tersebut bocor ke NationalReview.com yang kemudian memuat isinya.

Surat kabar terbesar kedua di AS, New York Times juga menolak menampilkan karikatur yang menyulut kemarahan Kouachi bersaudara dan umat Muslim di seluruh dunia.

Keputusan New York Times untuk tidak menampilkan karikatur tersebut juga dikritik keras oleh pembacanya karena dianggap "pengecut" dan "tidak solid dengan Charlie Hebdo".

"Kami membuat keputusan untuk tidak memuat karikatur tersebut. Ada batas antara penghinaan dan satir. (Kartun) Ini adalah bentuk penghinaan," kata Executive Editor NY Times Dean Baquet.

Associated Press (AP) dan Washington Post juga menganggap karikatur Charlie Hebdo ofensif dan menolak ikut-ikutan "Je Suis Charlie". AP bahkan sengaja tidak mengedarkan karikatur kontroversial tersebut di jaringan wire-nya, padahal gambar dan foto AP digunakan oleh banyak media di seluruh dunia.

The Jakarta Globe, koran berbahasa Inggris Berita Satu Media Holdings, tidak memuat editorial atau tajuk mengenai penembakan Charlie Hebdo. Namun, Jakarta Globe memuat opini yang mengindikasikan posisinya tidak mendukung kebijakan editorial Charlie Hebdo.

Dalam kolom opini yang ditulis oleh Jamil Maidan Flores disebutkan bahwa karikatur Charlie Hebdo bukanlah satir, melainkan fitnah yang jahat dan pantas dihukum secara legal (sesuai undang-undang yang berlaku) tapi lantas tidak membenarkan pembunuhan yang dilakukan Kouachi bersaudara.

Di balik hingar-bingar "JeSuisCharlie" terselip tagar "JeSuisAhmed", seorang polisi Muslim yang tewas karena membela kebebasan berpendapat Charlie Hebdo.

Sumber: berbagai sumber
CLOSE