Untuk Setop Migran, Italia Buka Kembali Kedutaan di Libia

Pasukan keamanan Libia memeriksa lokasi ledakan bom di pintu masuk kediaman duta besar Iran di ibukota Tripoli, 22 Februari 2015. (AFP Photo/Str)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Rabu, 11 Januari 2017 | 11:24 WIB

Roma - Italia menjadi perwakilan pertama negara Barat yang membuka kembali kedutaan besarnya di ibu kota Libia, Tripoli. Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan antara Menteri Dalam Negeri Italia, Marco Minniti, dan Perdana Menteri (PM) Libia, Fayez al-Serraj, di Tripoli. Keduanya juga sepakat bekerja sama dalam bidang keamanan untuk melawan terorisme dan penyeludupan manusia.

Italia yang merupakan bekas jajahan Libia, adalah satu dari negara Barat yang menutup perwakilannya di Tripoli pada 2015 karena konflik di wilayah itu. Koalisi milisi saat itu mengambil alih ibu kota dan kelompok Negara Islam (IS) semakin menguasai wilayah itu.

“Duta Besar Italia kembali ke Tripoli setelah dua tahun. Sebuah gerakan besar dari persahabatan dengan warga Libia. Saat ini, keberangkatan migran lebih terkontrol,” kata Menteri Luar Negeri Italia, Angelino Alfano lewat akun Twitter.

Banyak negara menutup kedutaan asingnya di Tripoli karena kekhawatiran kelompok militan di sana termasuk gejolak akibat jihadis IS. Kondisi negara yang tidak stabil ditambah banyaknya pelanggaran hukum menjadikan negara itu tempat bagi orang-orang dari lepas pantai Afrika Utara untuk mencapai Uni Eropa (UE).

Badan perbatasan UE, Frontex, mengatakan jumlah orang yang terdeteksi menyeberangi Laut Mediterania tahun lalu mencapai 181.000 atau angka tertinggi yang pernah tercatat di sepanjang rute tersebut. Mayoritas migran datang dari Nigeria, lalu diikuti warga negara Eritrea, Guinea, Pantai Gading, dan Gambia. Mereka menuju Italia seringkali dengan kapal-kapal tidak layak.

Menteri Dalam Negeri Italia, Marco Minniti, juga mengumumkan adanya pakta untuk meningkatkan kerja sama dengan Libia dalam mengatasi penyeludupan migran, terorisme, dan penyeludupan manusia. Minniti seperti di laporan kantor berita Italia, Ansa, sudah bertemu dengan para menteri senior Libia termasuk Perdana Menteri (PM) Fayez el-Sarraj yang didukung PBB.[DW/Breitbart/U-5]




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT