Lelaki Taliban memakan roti dengan sup ayam di kota Mazar-i-Sharif Balkh province (1/1). Mazar-i-Sharif adalah ibukota propinsi Balkh, kota multi etnik yang terdiri dari Uzbeks, Turkmen, Tajiks dan Hazaras. Secara harfiah Mazar-i-Sharif berarti tempat ibadah terhormat. Oleh wisatawan kota ini dikenal sebagai lokasi mesjid biru
Taliban sering membesar-besarkan jumlah korban dalam serangan mereka

Ledakan bom bunuh diri menewaskan dua polisi di Afghanistan timur laut, beberapa jam setelah serangan Taliban terhadap pos polisi di daerah lain Afghanistan, yang menewaskan delapan orang.

Abdul Maroof Rasekh, juru bicara provinsi Badakhshan, Afghanistan timurlaut, mengatakan, "Serangan bom bunuh diri yang ditujukan pada sekelompok polisi lokal di distrik Keshm hari ini menewaskan komandan polisi lokal di distrik itu dan salah seorang pengawalnya."

Ia menyebut komandan itu sebagai Nazek Mir dan mengatakan bahwa 18 warga sipil cedera dalam pemboman tersebut, sebagian besar dalam keadaan serius.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengklaim pihaknya bertanggung jawab atas serangan itu, dalam sebuah teks yang dikirim kepada AFP.

Ia mengatakan, lima pengawal dan komandan tewas. Taliban dikenal sering membesar-besarkan jumlah korban dalam serangan mereka.

Sebelumnya, Naqibullah Farahi, juru bicara provinsi Farah, Afghanistan barat yang berbatasan dengan Iran, mengatakan, orang-orang bersenjata Taliban membunuh delapan polisi setempat dalam serangan terhadap sebuah pos terpencil di distrik Khaki Safed pada Rabu larut malam.

Ketika dihubungi AFP melalui telepon, juru bicara Taliban Qari Yousuf Ahmadi mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu namun menyebut jumlah polisi yang tewas 12 orang.

Sehari sebelumnya, Rabu, serangan bom bunuh diri di provinsi Faryab, Afghanistan utara, menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk empat prajurit AS.

Dengan kematian keempat prajurit Amerika itu, jumlah korban tewas NATO di Afghanistan sepanjang tahun ini telah melampaui 100.

Konflik meningkat di Afghanistan dengan jumlah kematian sipil dan militer mencapai tingkat tertinggi tahun lalu ketika kekerasan yang dikobarkan Taliban meluas dari wilayah tradisional di selatan dan timur ke daerah-daerah barat dan utara yang dulu stabil.

Jumlah warga sipil yang tewas meningkat secara tetap dalam lima tahun terakhir, dan pada 2011 jumlah kematian sipil mencapai 3.021, menurut data PBB.

Sebanyak 711 prajurit asing tewas dalam perang di Afghanistan sepanjang pada 2010, yang menjadikan 2010 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan asing, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas situs independen icasualties.org.

Jumlah kematian sipil juga meningkat, dan Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengumumkan bahwa 2.043 warga sipil tewas pada 2010 akibat serangan Taliban dan operasi militer yang ditujukan pada gerilyawan.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara berada di Afghanistan untuk membantu pemerintah Kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya.

Sekitar 521 prajurit asing tewas sepanjang 2009, yang menjadikan tahun itu sebagai tahun mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri, untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.

Penulis: