Koalisi Saudi Serang Pasar di Yaman, 25 Tewas

Kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan udara Arab Saudi ke Yaman. (AFP)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Senin, 19 Juni 2017 | 16:33 WIB

Saada - Setidaknya 25 warga sipil Yaman tewas dalam serangan udara yang dipimpin Arab Saudi ke sebuah pasar di Provinsi Saada, Yaman, sebelah utara. Direktur dari kantor departemen kesehatan yang dijalankan oleh Houthi di Saada, Abdelilah al-Azzi, menyatakan pesawat itu melakukan dua kali serangan ke pasar al-Mashnaq di distrik Shada, dekat dengan perbatasan Saudi, hari Sabtu (17/6).

“Tim-tim penyelamat tidak mampu menjangkau wilayah itu selama beberapa saat karena takut ditembak peluru di wilayah itu,” kata Abdelilah kepada Reuters, Minggu (18/6).

Sejumlah kantor berita Yaman menyampaikan laporan-laporan serupa atas pengeboman di Saada, yang berbatasan langsung dengan Saudi. Para pejabat dari koalisi Saudi belum memberikan komentar atas laporan tersebut.

Koalisi Saudi telah melakukan serangan udara di negara miskin tersebut selama lebih dari dua tahun untuk melawan pemberontak Houthi. Yaman telah terperosok dalam perang saudara antara pemerintah yang dipimpin Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi dengan dukungan koalisi Saudi, melawan pemberontak Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah itu, termasuk ibu kota Sanaa. Perang tersebut telah menewaskan banyak warga sipil.

Pada Maret lalu, serangan udara koalisi Saudi menewaskan 22 orang dan melukai puluhan lainnya setelah menyerang sebuah pasar di Yaman barat, dekat kota nelayan Laut Merah, Khoukha. Selain Khoukha, kota-kota dekat Hodeidah juga dikuasai oleh Houthi yang menjalankan pemerintahan di Sanaa sejak 2014 dan berpindah ke selatan, Aden, pada 2015 sehingga memaksa Hadi dan pemerintahannya lari ke pengasingan. Koalisi pimpinan Saudi berhasil merebut Aden tahun lalu.

Perang Yaman telah menewaskan lebih dari 10.000 orang, serta membuat lebih dari tiga juta orang mengungsi. Koalisi Saudi dibentuk pada 2015 untuk melawan Houthi dan pasukan yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh.

Pada Desember lalu, koalisi mengakui telah menggunakan secara terbatas bom-bom klaster buatan Inggris, tapi telah menghentikannya. Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) menyatakan hampir setengah dari 22 provinsi Yaman berada di ambang kelaparan, termasuk anak-anak mengalami busung lapar.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT