Duterte : Pertempuran Marawi Segera Berakhir i

Asap hitam terlihat setelah pesawat tempur militer Filipina menjatuhkan bom di lokasi yang diduga menjadi persembunyian militan muslim IS di Marawi, selatan Mindanao, 6 Juni 2017.

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Senin, 19 Juni 2017 | 15:43 WIB

Butuan - Presiden Filipina Rodrigo Duterte akhirnya muncul ke publik setelah absen hampir seminggu untuk meyakinkan kembali para tentara dan masyarakat bahwa perlawanan kepada para teroris terafiliasi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) di Kota Marawi, Filipina Selatan, sudah mendekati akhir.

Duterte tidak menampakkan diri sejak pekan lalu karena disebut menderita kelelahan, termasuk tidak terlihat saat perayaan Hari Kemerdekaan Filipina tanggal 12 Juni lalu.

“Pertempuran masih berlanjut, tapi akan berakhir. Sulit untuk bertempur melawan mereka yang siap mati. Mereka telah merusak nama Tuhan dalam bentuk agama dan membunuh banyak orang tak berdosa untuk hal sia-sia,” kata Duterte kepada para tentara di Divisi Infanteri ke-4 Pos Komando Kota Butuan, Sabtu (17/6).

Ketika dikonfirmasi soal kesehatannya, Duterte meremehkan ketidakhadirannya di tengah situasi mendesak di Marawi saat ini. “Jangan khawatir. Kesehatan saya tidak penting. Ada wakil presiden yang mengambil alih,” ujarnya.

Duterte membela keputusannya atas pemberlakuan darurat militer di Marawi saat media mempertanyakan pengumpulan informasi intelijen sebelum krisis maupun efektivitas operasi militer di sana. Bahkan, dia menegaskan akan menerapkan lagi di masa depan.

Para anggota oposisi dan kelompok masyarakat sipil menggugat pemberlakuan darurat militer di Marawi ke Mahkamah Agung (MA) Filipina.

Mereka meminta MA memerintahkan Kongres untuk menggelar sidang bersama dalam rangka mengevaluasi dasar presiden atas deklarasi tersebut. Duterte menanggapinya dengan menyatakan tidak masalah jika MA membatalkan pemberlakuan darurat militer karena dia mengklaim bisa bertahan tanpa hal itu.

Duterte memberlakukan darurat militer di seluruh Pulau Mindanao pada 23 Mei lalu setelah teroris Maute menyerbu Kota Marawi dengan membakar sejumlah gedung, termasuk katedral Katolik dan menyandera puluhan warga sipil. Duterte mengatakan para teroris dan pemberontak di Marawi melakukan pemberontakan, salah satu kondisi yang bisa membenarkan penerapan darurat militer.

“Jika pemberontak membakar Mindanao dan bagian lain dari Filipina, saya terpaksa mengumumkan kembali darurat militer, tap kali ini saya akan melakukan seorang diri untuk melindungi bangsa saya. Saya tidak akan berkonsultasi dengan siapa pun atau mengatakan kapan akan berakhir,” tandas Duterte.

“Maka itu akan menjadi tiruan Marcos. Saya tidak punya pilihan,” tambahnya.
Ferdinand Marcos mengumumkan darurat militer pada 1972 demi mengekang ancaman oleh pemberontak komunis. Para pengkritik mengatakan deklarasi tersebut membuka jalan untuk pelanggaran hak asasi manusia, penghilangan paksa, dan penyiksaan para oposisi politik.

Mengenai kapan berakhirnya darurat militer, Duterte mengatakan aturan itu akan dihapus setelah pertempuran selesai. Para pejabat Filipina mengatakan pencabutan darurat militer tergantung rekomendasi komando di lapangan.

“Apa yang kamu inginkan? Mereka membakar setengah Mindanao sebelum kita sebut itu pemberontakan sejati? Itu gila,” kata Duterte.

Kepala negosiator pemerintah Filipina, Silvestre Bello III, mengatakan pemerintah akan menunda serangan kepada para pejuang komunis di Filipina Selatan agar para tentara bisa fokus melawan para pemberontak terkait ISIS. Langkah pemerintah untuk menanggapi rencana serupa oleh para pemberontak komunis Tentara Rakyat Baru.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT