Terjerat Kasus Korupsi, Mantan Presiden Peru dan Istri Dipenjara

()

Oleh: Unggul Wirawan / WIR | Sabtu, 15 Juli 2017 | 16:33 WIB

Lima - Mantan presiden Peru Ollanta Humala dan istrinya, Nadine Heredia ditahan di penjara, Jumat (14/7). Penahanan sementara hingga 18 bulan di penjara itu dilakukan jelang penyidikan kasus korupsi.

Penahanan terhadap Humala dan Heredia diperintahkan hakim saat jaksa menyiapkan tuduhan terhadap mereka atas dugaan pencucian uang. Segera setelah hakim mengeluarkan putusan pada Kamis (13/7) malam, Ollanta Humala dan Nadine Heredia diseret ke pengadilan dengan pengawalan polisi.

Hakim Richard Concepcion memerintahkan Humala dan Heredia ditahan hingga 18 bulan saat kasus korupsi diselidiki. Keputusan itu menandakan kedua kalinya hakim menetapkan masa tahanan untuk mantan presiden sejak skandal korupsi besar-besaran di Brasil merambah ke Peru.

Jaksa German Juarez mengutip kesaksian dari mantan eksekutif pengembang Brasil yakni Odebrecht yang menuduh pasangan Humala dan Heredia menerima US$3 juta untuk dana kampanye ilegal saat pilpres tahun 2011.

Juarez juga menyebut pasangan itu menerima dana yang tak jelas dari pemimpin Venezuela Hugo Chavez saat pilpres sebelumnya. Namun pada saat itu, Humala mengalami kekalahan.

"Di sini presiden yang naik kursi kepresidenan dan memerintahkan kita dengan kampanye pemilihan yang dibiayai dari uang haram. Itu kejahatan moral yang mencederai masyarakat," kata Juarez.

Humala adalah mantan pejabat militer yang memimpin Peru dari tahun 2011 ke tahun 2016. Dia menggandeng Heredia, salah seorang pendiri partai nasionalisnya, segera setelah berkuasa. Saat didera kasus korupsi ini, mereka menyangkal tuduhan dan menyerukan masa prapenahanan mereka tidak adil.

Jelang pengadilan, Humala menulis kicauan di jejaring Twitter. "Ini menegaskan penyalahgunaan kekuasaan yang ditentang demi hak kami dan hak dari setiap orang," katanya.

Jaksa mengajukan permohonan penahanan pasangan Humala dan Heredia pada awal minggu. Dia beralasan pasangan suami istri itu mungkin melarikan diri dari Peru untuk menghindari jeratan hukum.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT