Taksir Kerusakan Marawi, Filipina Gunakan “Drone”

Asap putih terlihat setelah jet tempur FA-50 milik Angkatan Bersenjata Filipina mejatuhkan rudal di lokasi yang diduga menjadi camp Militan Islam ISIS di Marawi, Filipina, 26 Juni 2017 lalu. Namun nahas, jet buatan Korea Selatan tersebut salah sasaran dan menewaskan dua prajurit serta belasan lainnya yang sedang bertugas. (AFP/Ted Aljibe)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Senin, 17 Juli 2017 | 17:55 WIB

Marawi - Pemerintah Provinsi Lanao del Sur berencana menggunakan drone (pesawat tanpa awak) untuk menaksir kerusakan yang disebabkan oleh konflik di Marawi, termasuk mengidentifikasi wilayah yang perlu mendapatkan prioritas rehabilitasi. Wakil Gubernur Mamintal Adiong mengatakan DPRD berhasil mendapatkan harga kontrak pemetaan kurang dari 95% harga aslinya.

“Kami hanya membayar sekitar 1 juta peso (Rp 263 juta) karena kontraktor juga ingin berkontribusi untuk membangun kembali kota itu (Marawi),” kata Adiong.

Pernyataan itu disampaikan Adiong setelah Menteri Keuangan Filipina Benjamin Diokno menyatakan pemerintah nasional akan mengeluarkan setidaknya 15 miliar peso untuk merehabilitasi Marawi selama dua tahun ke depan.

“Tapi kami harus menunggu izin dari militer sebelum melakukan itu (mengirim drone),” tambah Adiong.

Adiong mengatakan dirinya akan menggelar pertemuan pekan ini dengan sejumlah ahli rehabilitasi yang menawarkan bantuan membangun kembali Marawi. Salah satunya dengan perusahaan arsitektur Felino Palafox.

“Kami senang dia menunjukkan minat untuk memperluas bantuan teknis relatif bagi rehabilitasi Marawi, meskipun kami belum secara resmi menyetujui persyaratan dan tingkat partisipasinya,” kata saudara laki-laki gubernur, Zia Adiong.

Menurut Zia, yang juga anggota dewan majelis di Wilayah Otonom Muslim Mindanao dan juru bicara komite krisis manajemen Lanao del Sur, kebutuhan penilaian kerusakan dan rekonstruksi kota dan provinsi belum difinalisasi. Sebab, hal itu tergantung penilaian sebenarnya yang hanya bisa dibuat setelah pertempuran selesai.

Berdasarkan citra satelit atas kota Marawi, banyak wilayah telah ditinggalkan dengan reruntuhan sejak awal pertempuran pada 23 Mei 2017.

“Tingkat keparahan kerusakan yang terjadi atas properti sipil atau publik terkonsentrasi di sisi timur sungai, daerah di mana sampai saat ini pasukan pemerintah kita masih bertarung dengan kelompok Maute,” kata Adiong.

Pada Minggu (16/7), militer menyatakan berhasil membersihkan lebih dari 60 bangunan yang dikuasai teroris dalam 48 jam terakhir. Pasukan saat ini mengejar sekitar 60 anggota kelompok Maute yang tersisa dan sedang bergerak maju ke “pusat gravitasi” pertempuran.

Berdasarkan informasi di lapangan, militer menyebutkan Abdullah, satu dari Maute bersaudara, masih memimpin kelompok militan yang terkait Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) tersebut.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT