Marawi Dianggap Masih Belum Aman

Militer Filipina mengintip dari jendela gedung sekolah dalam sebuah misi untuk menyingkirkan para penembak jitu militan Islam di Marawi, di pulau selatan Mindanao, 6 Juni 2017. (AFP/Noel Celis)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Senin, 17 Juli 2017 | 17:00 WIB

Manila -  Juru bicara presiden, Ernesto Abella, memperingatkan bahwa masih belum aman untuk para penduduk jika kembali ke Marawi karena kelompok teror Maute masih berada di sana.

Hal itu ditegaskan Abella pada Minggu (16/7) terkait rencana sekelompok perempuan yang ingin kembali ke Marawi pada 24 Juli saat Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyampaikan pidato kenegaraannya yang kedua.

Kelompok itu ingin menunjukkan pada dunia bahwa para pengungsi Marawi menderita di pusat-pusat evakuasi. Abella mengatakan pemerintah memahami perasaan penduduk yang ingin kembali ke rumah, namun pemerintah mengkhawatirkan keselamatan dan keamanan seluruh penduduk, khususnya perempuan dan anak-anak.

“Tidak ada jaminan bahwa area di luar zona pertempuran utama sudah aman untuk ditinggali karena adanya kasus-kasus korban salah tembak,” katanya.

Abella mengatakan pembersihan Marawi dari alat peledak rakitan dan jebakan para teroris masih terus dilakukan.

“Bahaya dan resiko masih tinggi. Demi keamanan setiap orang, lebih baik menunggu sampai berakhirnya permusuhan dan selesainya operasi pembersihan,” ujar Abella.

Presiden Duterte sebelumnya menyatakan operasi militer melawan kelompok Maute di Marawi mungkin akan berakhir dalam 10-15 hari lagi. Duterte menetapkan darurat militer di seluruh Mindanao sejak 23 Mei saat teroris menduduki Marawi.

Duterte masih menunggu rekomendasi polisi dan militer jika ingin memperpanjang 60 hari darurat militer, yang akan berakhir pada 22 Juli nanti.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT