Qatar dan Turki Gelar Latihan Militer

Militer Turki melakukan patroli keamanan di Suruc, Sanliurfa, untuk mengantisipasi pergerakan anggota kelompok militan Negara Islam (Islamic State/IS), yang terdesak di sekitar perbatasan Suriah. (AFP)

Oleh: Unggul Wirawan / WIR | Selasa, 8 Agustus 2017 | 16:58 WIB

Doha - Turki dan Qatar telah menggelar latihan militer gabungan yang memperlihatkan aliansi strategis kedua negara. Seperti dilaporkan Reuters, Senin (7/8), latihan militer digelar setelah pasukan Turki dikerahkan ke Qatar menyusul blokade diplomatik dan transportasi yang diberlakukan terhadap Doha oleh beberapa negara Arab.

“Latihan tersebut bertujuan untuk mempersiapkan militer Qatar dalam mempertahankan fasilitas ekonomi, strategis dan infrastruktur vital," bunyi laporan surat kabar Al-Sharq seperti dikutip Reuters.

Latihan tersebut dilakukan setelah media Turki melaporkan, latihan gabungan berlangsung 6-7 Agustus 2017. Para pejabat mengatakan latihan akan bertujuan memperkuat kemampuan pertahanan kedua negara dan meningkatkan upaya memerangi kelompok-kelompok bersenjata, serta menjaga stabilitas di wilayah tersebut.

Menurut kantor berita Anadolu, Komandan Muda Angkatan Laut Qatar Mohammed Nasser al-Mohannadi mengunjungi kapal fregat Turki TCG Gökova pada pekan lalu, yang berlabuh di pelabuhan Hamad, Qatar.

Tentara Turki dikerahkan ke Qatar pada bulan Juni, setelah kebijakan lobi Ankara yang mengizinkan ratusan tentara dikirim ke sebuah pangkalan militer Turki di Qatar. Langkah tersebut dilakukan setelah beberapa negara Arab memberlakukan blokade di Doha, menuduhnya mendukung terorisme.

Ankara menyatakan akan mengerahkan 3.000 tentara darat ke markas tersebut, untuk latihan bersama dan untuk mendukung upaya anti-terorisme. Namun, keberadaan basis militer Turki merupakan titik pertentangan utama di antara negara-negara Arab yang mengeluarkan blokade Qatar pada bulan Juni. Penutupan pangkalan militer itu merupakan bagian dari ultimatum 13 poin yang dikeluarkan oleh negara-negara tersebut, yang meliputi Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir.

Meskipun ada seruan menutup pangkalan tersebut, Doha tidak mungkin melakukannya. Menteri pertahanan Qatar mengatakan kepada RT, pada Juni 2017, Doha dan Ankara menikmati "hubungan strategis khusus". Kedua negara memiliki sikap yang sama mengenai isu "membebaskan demokrasi dan rakyat yang tertindas.

Pada Juni, Turki juga menyatakan tidak ada niat untuk menutup pangkalan militernya. Menteri Pertahanan Turki Fikri Isik menjelaskan kepada penyiar lokal NTV bahwa mengevaluasi kembali kesepakatan dasar dengan Qatar tidak ada dalam agenda Turki.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT