Capres Perempuan Singapura Punya Nilai Tambah

Taksi sungai melintasi distrik finansial di Singapura, Selasa (11/7). Raksasa investasi Singapura Temasek Holdings mengumumkan portofolio globalnya mencapai rekor kapitalisasi (Investor Daily/ AFP PHOTO / ROSLAN RAHMAN) ()

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Kamis, 10 Agustus 2017 | 17:25 WIB

Singapura -Peluang terpilihnya Halimah Yacob sebagai presiden Singapura berikutnya akan menjadi simbol kemenangan bagi kaum perempuan di Asia Tenggara. Ini juga menjadi nilai tambah dalam hubungan antar etnis di Singapura.

Halimah mengonfirmasi niatnya untuk maju dalam pemilihan presiden mendatang. Dia telah mengundurkan diri sebagai ketua parlemen untuk mencalonkan diri dari masyarakat minoritas Melayu di Singapura.

Tulisan di media South China Morning Post (SCMP) menyebutkan perempuan tidak menonjol di Singapura dan Malaysia, sehingga Singapura mungkin berada di ambang tonggak sejarah politik dengan kemungkinan terpilihnya Halimah sebagai presiden perempuan pertama bulan depan.

Sebuah laporan mengutip Netina Tan, yaitu seorang peneliti berbasis di Kanada yang fokus meneliti perwakilan perempuan Asia dalam politik, menyebutkan bahwa “Halimah kandidat favorit Partai Aksi Rakyat (PAP) dan kandidat paling efisien karena simbol yang memusatkan keragaman baik etnis, agama, dan gender”.

Tan, yang juga asisten profesor ilmu politik di Universitas McMaster, mengatakan Halimah adalah isyarat jelas bagi para pemilih bahwa politik Singapura beragam dan inklusif. Seorang peneliti Singapura, Mustafa Izzuddin, menilai jika Halimah berhasil menang maka akan menjadi sebuah langkah maju.

“Dia tidak hanya akan memecahkan langit-langit kaca di dalam Singapura tapi juga menempatkan Singapura pada peta dunia,” kata Mustafa.

Halimah yang merupakan seorang pengacara, mengatakan akan bersaing dengan Tony Tan Keng Yam sebagai presiden. Dia sudah berhenti dari partai penguasa PAP dan jabatan ketua parlemen.

Seremonial

Meskipun posisi presiden Singapura hanya seremonial, presiden tetap memegang beberapa hak veto dalam penunjukan birokrat-birokrat kunci dan penggunaan cadangan keuangan secara mendalam. Etnis Melayu belum pernah lagi menjabat presiden di Singapura setelah Yusof Ishak, yang menjabat sejak 1965 sampai kematiannya pada 1970.

Dua pengusaha, Farid Khan Kaim Khan dan Mohamed Salleh Marican, juga menyatakan kesiapannya maju dalam pemilihan nanti. Halimah memenuhi syarat presiden, namun tidak demikian dengan dua pesaingnya yang keduanya berasal dari sektor swasta.

Calon dari sektor swasta harus terlebih dulu menunjukkan bahwa mereka telah memimpin perusahaan dengan setidaknya kekayaan pemegang saham sebesar 500 juta Singapura. Halimah memenuhi kreiteria yang ditetapkan untuk sektor publik karena telah menjabat selama tiga tahun atau lebih.

Namun, Komite Pemilihan Presiden bisa mengizinkan siapa pun maju dalam pemilihan jika orang itu memuaskan dalam melayani tiga tahun tauu lebih di dalam organisasi sektor swasta, serta memiliki pengalaman dan kemampuan yang bisa dibandingkan dengan seseorang yang telah menjabat kepala eksekutif sebuah perusahaan dengan saham senilai 500 juta Singapura.

Pada Kamis (10/8), Singapura merayakan Hari Kemerdekaan (National Day) untuk memperingati kemerdekaan negara itu yang saat ini memasuki usia 52 tahun. Perayaan National Day di Singapura digelar dengan National Day Parade (NDP) di Teluk Marina. National Day ini untuk memperingati kemenangan Singapura dari Malaysia pada 1965.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT