PBB Jatuhkan Sanksi Berat, Korut Ancam AS

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (AFP Photo/KCNA)

Oleh: Heru Andriyanto / HA | Rabu, 13 September 2017 | 04:04 WIB

New York - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menjatuhkan sanksi ekonomi baru yang cukup berat atas Korea Utara (Korut) setelah negara itu melakukan uji coba nuklir keenam dan yang terbesar sejauh ini.

Merespons sanksi tersebut, Duta Besar Korut untuk PBB Han Tae-Song pada Selasa (12/9) mengancam akan melakukan pembalasan "paling menyakitkan" bagi Amerika Serikat.

"Tindakan berikutnya oleh DPRK (Demokratic People's Republic of Korea, nama resmi Korut) akan membuat AS merasakan hal paling menyakitkan yang pernah mereka alami dalam sejarahnya," kata Tae-Song dalam sebuah seminar di Jenewa, Swiss.

Dia menuduh AS telah "merekayasa sebagian besar resolusi PBB yang jahat itu".

Isi Sanksi
Sanksi PBB yang diputuskan hari sebelumnya meliputi pembatasan impor minyak dan larangan ekspor tekstil oleh Korut, sebagai upaya menekan pasokan bahan bakar dan pendapatan yang dipakai membiayai program nuklirnya.

Awalnya AS memang mengusulkan embargo penuh atas impor minyak Korut, namun kemudian melunak dengan pembatasan impor saja demi mendapat dukungan Tiongkok dan Rusia. Dua negara yang disebut terakhir punya hak veto di Dewan Keamanan PBB.

Tiongkok, sekutu utama Pyongyang, adalah pemasok minyak terbesar bagi Korut.

Tekstil adalah komoditas ekspor terbesar kedua Korut dengan nilai lebih dari US$ 700 juta per tahun.

Sanksi lainnya adalah larangan penerbitan visa bagi para pekerja asal Korut di luar negeri yang diperkirakan bisa menghilangkan pendapatan pajak senilai US$ 500 juta per tahun.

Usulan lainnya yaitu pembekuan aset pemimpin Korut Kim Jong-un dan larangan ke luar negeri bagi dia akhirnya dibatalkan.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mengindikasikan bahwa Korut masih diberi kesempatan untuk mengubah sikapnya.

"Kami menambah sanksi hari ini tidak dengan senang hati, kami tidak mencari peperangan," kata Haley.

"Rezim Korea Utara belum sampai pada titik tidak bisa kembali. Kalau Korea Utara meneruskan tindakan yang berbahaya ini, kami akan melanjutkan dengan tekanan berikutnya. Pilihan ada pada mereka."

Resolusi PBB yang diputuskan Senin lalu itu adalah sanksi kesembilan yang dijatuhkan atas Korut sejak 2006.




Sumber: AFP, BBC
ARTIKEL TERKAIT