Gagal Lakukan Pemilihan Presiden, Warga Singapura Kecewa

Halimah Yacob. (AFP)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Rabu, 13 September 2017 | 16:30 WIB

Singapura - Warga Singapura menyuarakan kekecewaan mereka dengan mencemooh proses pemilihan presiden baru. Halimah Yacob (63) ditetapkan sebagai satu-satunya kandidat yang lolos kualifikasi sehingga perempuan Melayu itu akan langsung dilantik tanpa melewati pemilihan.

Pemilu presiden Singapura dijadwalkan digelar 23 September 2017, tetapi dengan tampilnya Halimah sebagai kandidat tunggal, maka dia dipastikan menjadi presiden tanpa pemungutan suara. Dua pesaing kuatnya, Mohamed Salleh Marican dan Farid Khan gagal memenuhi syarat, meskipun pencalonan presiden resmi ditutup Rabu (13/9).

Halimah adalah mantan ketua parlemen dari kelompok minoritas Muslim Melayu. Dia terpilih dari total lima kandidat yang mencalonkan diri dalam kualifikasi kandidat presiden untuk negara dengan populasi 5,5 juta orang.

Komisi pemilihan mendiskualifikasi dua kandidat karena bukan dari golongan Melayu, sedangkan dua pengusaha yang juga maju sebagai calon presiden didiskualifikasi karena perusahaan mereka terlalu kecil.

Pemilu Singapura tahun ini cukup unik karena adanya kebijakan inklusif untuk ras Melayu. Hal itu dilakukan ketika sebuah kelompok ras tidak menjabat presiden dalam lima masa jabatan berturut-turut atau sekitar 30 tahun. Aturan tersebut tertuang setelah parlemen melakukan amendemen konstitusi dengan memasukkan pembatasan pemilihan presiden untuk ras tertentu.

“Semua warga Singapura tidak senang bahwa meritokrasi dan keadilan pemilihan, sebagai inti nilai-nilai warga Singapura, telah terkikis untuk memenuhi tujuan politik yang dirasakan,” kata penulis dan komentator politik Sudhir Thomas Vadaketh.

Kemarahan warga Singapura juga mencuat lewat media sosial. Salah satunya pengguna Facebook, Hussain Shamsuddin. “Sebagai warga dari negara demokrasi ini, saya sangat malu,” kata Hussain Shamsuddin.

“Jangan sebut itu pemilihan jika warga Singapura tidak bisa memilih,” kata pengguna Facebook lainnya, Fazly Jijio.

Sejumlah besar pengguna media sosial bahkan memasang tagar #NotMyPresiden, yaitu tagar yang juga dipakai setelah Donald Trump terpilih menjadi presiden Amerika Serikat (AS) tahun lalu.

“Saya warga Singapura. Saya perempuan. Saya Melayu. Tetapi suara saya bukan untuk pengangkatannya,” kata Nadia Nasser lewat Facebook.

“Demokrasi di atas ras, bila dia terlibat pemilihan presiden dengan cara yang lebih adil, dia pasti menang dengan suara saya bersama yang lainnya dalam komunitas Muslim. Namun, bukan itu yang terjadi, jadi dia bukan presiden saya. Dia hanya pemimpin yang diajukan negara,” tambah Nasser.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT