Masih Terbelit Kasus Korupsi, Najib Permalukan Malaysia di AS

PM Malaysia Najib Razak. (Istimewa)

Oleh: Jeanny Aipassa / WIR | Rabu, 13 September 2017 | 16:51 WIB

Kuala Lumpur - Anggota perlemen oposisi senior Malaysia, Lim Kit Siang, mengatakan kunjungan Najib ke Gedung Putih pada Rabu (13/9) merupakan “penghinaan dan menimbulkan rasa malu nasional” di tengah sorotan atas dugaan kasus korupsi lembaga keuangan 1MDB yang menyeret namanya.

Hal itu menjadi sorotan kelompok oposisi karena Najib dan rombongan diduga menginap di Trump International Hotel, yang letaknya tak jauh dari Gedung Putih. Najib sama sekali tidak mengonfirmasi hal itu, bahkan Juru Bicara Gedung Putih, Sanders, mengaku tidak tahu karena pihak Gedung Putih tidak mengurus akomodasi kunjungan Najib.

Hal senada juga disampaikan Direktur Intitut Asia di Universitas Australia Tasmania, James Chin. Menurutnya, kunjungan Najib ke Gedung Putih seolah ingin menepis dugaan korupsi mega skandal 1MDB yang telah diselidiki AS.

“Najib seolah ingin menunjukkan kepada rakyat Malaysia bahwa dia mendapat dukungan Gedung Putih dan penyelidikan AS terhadapa kasus 1MDB tidak ada hubungan dengannya,” ujar James.

Gedung Putih bersikeras bahwa penyelidikan Departemen Kehakiman tidak ada relevansinya dengan pertemuan tersebut, dan tidak menjadi topik bahasan kedua pemimpin negara.

"Penyelidikan itu bersifat apolitis dan tentunya tidak tergantung pada apa pun yang terjadi besok," kata Sanders, Senin.

Sementara Najib mengatakan kunjungannya tersebut bertujuan untuk menegaskan komitmen Malaysia untuk mendukung kebijakan Trump dalam memperkuat ekonomi AS dan misi untuk memerangi terorisme demi keamanan dan perdamaian dunia.

Najib mengungkapkan, pihaknya memiliki beberapa rencana kerja sama yang akan disepakati dalam pertemuan tersebut, antara lain terkait pembelian pesawat Boeing dan mesin jet General Electric.

Trump menyebut kesepakatan pembelian pesawat Boeing dengan Malaysia senilai US$ 10 miliar hingga US$ 20 miliar atau sekitar Rp 130 triliun hingga Rp 260 triliun. Namun tidak dijelaskan alasan pembelian pesawat itu.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT