PM Abe dan PM Modi Luncurkan Proyek Kereta Peluru US$ 17 M

PM Jepang Shinzo Abe (kiri) dan PM India Narendra Modi (AFP via CNA)

Oleh: Unggul Wirawan / WIR | Rabu, 13 September 2017 | 16:59 WIB

New Delhi - Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe akan meletakkan batu pondasi untuk layanan kereta peluru India pertama bersama Perdana Menteri Narendra Modi. Pada Rabu (13/9), Abe melakukan kunjungan selama dua hari ke India untuk mempererat hubungan kedua negara.

Langkah yang dilakukan Abe sekaligus menyoroti keunggulan awal bagi Jepang dalam proyek kereta di India. Sektor transportasi massal di India juga diincar pengusaha Tiongkok, namun tanpa banyak membuahkan hasil.

Modi telah membuat jalur rel berkecepatan tinggi sepanjang 500 km antara pusat keuangan Mumbai dan kota industri Ahmedabad di Gujarat. Pembangunan jalur kereta ini menjadi pusat dari upaya Modi untuk menunjukkan kemampuan India dalam membangun infrastruktur terdepan.

“Teknologi ini akan merevolusi dan mengubah sektor transportasi,” kata Menteri Perminyakan Piyush Goyal seraya menyambut prospek pertumbuhan yang dibawa teknologi "shinkansen" kecepatan tinggi Jepang.

Di Tokyo, seorang pejabat kementerian luar negeri Jepang mengatakan hal serupa kepada wartawan. "Kami ingin mendukung 'Make in India' sebanyak mungkin. Dan untuk itu, kami ingin melakukan apa yang berada di luar jalur Mumbai-Ahmedabad dan mencapai skala ekonomis," katanya mengacu pada kebijakan Modi yang ingin menarik investor di bidang manufaktur.

Pemerintah India akan melakukan "upaya habis-habisan" untuk menyelesaikan proyek pada Agustus 2022, atau setahun lebih awal dari jadwal yang direncanakan. Sementara Jepang menyediakan 81% dana untuk proyek senilai 1,08 triliun rupee (US$ 16,9 miliar), melalui pinjaman 50 tahun dengan bunga tahunan sebesar 0,1%.

Hubungan antara India dan Jepang telah berkembang seiring Modi dan Abe semakin sering terlihat secara langsung menentang Tiongkok yang ekspansif di seluruh Asia.

Investasi Jepang ke India telah melonjak jauh, mulai dari otomotif hingga infrastruktur. Hal ini membuat Tokyo langsung menjadi investor asing terbesar ketiga.

India dan Jepang juga mencoba untuk merealisasikan rencana New Delhi untuk membeli pesawat amfibi Jepang US-2 dari ShinMaywa Industries. dalam apa yang akan menjadi salah satu transfer senjata pertama di Tokyo sejak mengakhiri embargo yang diberlakukan sendiri.

Dengan mendapatkan keunggulan mulai dari pesaing eksportir teknologi rel seperti Tiongkok dan Jerman, Tokyo berharap perusahaannya akan dapat mendominasi bisnis di salah satu pasar kereta api berkecepatan tinggi yang paling menjanjikan.

Pada 2015, Tiongkok memenangi kontrak untuk menilai kelayakan hubungan berkecepatan tinggi antara Delhi dan Mumbai. Rute itu merupakan bagian dari jaringan rel yang berjarak lebih dari 10.000 km yang akan dibangun India, namun kemajuan telah dicapai sangat sedikit.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT