Bangladesh Hancurkan Perahu Pengangkut Pengungsi Rohingya

Sejumlah pengungsi Rohingnya berjalan saat hujan di dekat kamp pengungsuan Kutupalong, Ukhia, Bangladesh, 19 September 2017. (AFP/Dominique Faget)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Kamis, 5 Oktober 2017 | 17:58 WIB

Shah Porir Dwip - Otoritas Bangladesh telah menghancurkan sekitar 20 perahu pengangkut warga Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar. Bangladesh menuduh para penyelundup memanfaatkan eksodus besar-besaran Rohingya untuk membawa metamfetamina ke dalam negara itu.

Para pengungsi Rohingya mengatakan penjaga perbatasan juga memukul dan menahan para penumpang dan awak perahu saat mereka mendarat di Shah Porir Dwip, di ujung selatan Bangladesh, Selasa (3/10) malam, atau sebelum perahu-perahu tersebut dihancurkan berkeping-keping oleh penduduk setempat.

Komandan lokal dari Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB), Letkol Ariful Islam, membantah adanya pemukulan. Dia menyatakan aksi tersebut adalah tindakan keras atas perdagangan manusia dan penyeludupan metamfetamina yakni obat terlarang yang dalam bahasa lokal disebut “ya ba”.

“Perahu-perahu berusaha mengangkut penumpang yang tidak seharusnya,” kata Islam.

Dia menyalahkan penyelenggara perjalanan perahu melakukan eksploitasi atas warga miskin Rohingya dengan meminta mereka membayar perjalanan singkat ke Bangladesh. Beberapa penumpang terpaksa membayar 10.000 taka Bangladesh (Rp 1,6 juta) untuk setiap perjalanan, meskipun yang lainnya mengaku ditumpangi secara gratis.

Sebaliknya, empat penumpang mengaku tidak ada obat-obatan terlarang di perahu. Namun, Letkol Islam menyatakan para penjaga perbatasan menemukan sejumlah besar obat-obatan terlarang di perairan tersebut.

“Mungkin si pembawa telah menjatuhkannya sebelum turun,” kata Islam.

Lebih dari setengah juta warga Muslim Rohingya tiba di Bangladesh pascamelarikan diri dari tindakan keras Myanmar di Rakhine State. Warga Rohingya yang rawan penganiayaan juga menjadi sasaran para penyelundup manusia.

Di pusat pemrosesan padat di dekat Teknaf, Ibrahim Holil yaitu warga Rohingya dari desa Maungdaw Moknibara di Rakhine State, menggambarkan telah dipukul dengan sebuah tongkat oleh penjaga perbatasan saat menolong kerabatnya turun dari kapal mereka. “Tidak ada apa pun di kapal ini. Hanya barang milik kami,” katanya.

Warga Rohingya lainnya, Farous Ahmad (65), mengatakan kedua putranya bernama Sura Ahammed dan Dildar Ahammed, langsung ditangkap setelah mereka mendarat. Dia mengaku bekerja sebagai kru dalam perjalanan itu karena tidak mempunyai uang untuk membayar.

“Mereka juga memukul saya di mana saja. Saya tidak tahu dimana putra saya dan mengapa BGB menahan putra saya,” katanya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT