Organisasi Antisenjata Nuklir ICAN Menangi Penghargaan Nobel Perdamaian 2017

Sumitery Taniguchi menunjukkan bekas luka yang ia dapatkan 70 tahun lalu dari bom nuklir yang dijatuhkan Amerika Serikat di Jepang. (dailymail)

Oleh: Faisal Maliki Baskoro / FMB | Jumat, 6 Oktober 2017 | 16:50 WIB

Komite Nobel Norwegia memberikan penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini untuk organisasi antinuklir International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN).

Komite Nobel mengapresiasi usaha-usaha yang dilakukan ICAN untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya kemanusiaan akibat penggunaan senjata nuklir dan mendorong Pakta Pelarangan Penggunaan Nuklir dalam satu dekade terakhir.

ICAN membantu lahirnya pakta antinulir pada tahun 2007 yang saat ini didukung oleh 468 organisasi di 101 negara. Kepala ICAN Beatrice Fihn mengatakan bahwa lahirnya pakta tersebut adalah suatu keberhasilan tetapi target yang hendak dicapai belum terpenuhi.

"Perjuangan ini belum selesai sampai semua senjata nuklir dilucuti," kata Fihn.

Semua sembilan negara pemilik senjata nuklir memboikot pakta antinuklir meskipun 122 negara menyetujui lahirnya pakta tersebut dalam sidang PBB Juli lalu. Inggris, sebagai salah satu negara yang memboikot, mengatakan bahwa daripada melucuti senjata nuklirnya lebih baik membatasi penyebaran senjata nuklir di luar lima negara: AS, Rusia, Inggris, Prancis, dan Tiongkok.

Fihn mengatakan bahwa ketegangan antara AS dan Korea Utara, dua negara yang memiliki senjata nuklir, saat ini seharusnya menyadarkan dunia akan bahaya nuklir.

"Senjata nuklir bisa membuat dunia ini kiamat. Selama masih ada senjata nuklir, kita tidak akan merasa aman".

Adapun penerima nobel tahun-tahun sebelumnya adalah Presiden Kolombia Juan Manuel Santos (2016), Kuartet Dialog Nasional Tunisia (2015), aktivis Pakistan Malala Yousafzai (2014), Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (2013).




Sumber: Guardian
ARTIKEL TERKAIT