Penembakan Maut Las Vegas, Kenapa Harus Tahu Motifnya?

Orang-orang berusaha berlindung saat terjadi serangan tembakan di tengah festival musik country di dekat gedung Mandalay Bay Resort di Las Vegas, Nevada, 1 Oktober 2017. (AFP/David Becker)

Oleh: Heru Andriyanto / HA | Minggu, 8 Oktober 2017 | 06:51 WIB

Las Vegas - Meskipun sudah mengumpulkan lebih dari 1.000 petunjuk dalam penyelidikan kasus penembakan di Las Vegas, pihak berwajib mengatakan mereka masih kesulitan menemukan alasan kenapa Stephen Paddock menembaki para penonton konser musik dan membunuh 58 orang serta melukai ratusan lainnya.

Kevin McMahill, pejabat di Kepolisian Metro Las Vegas, merasa frustrasi dengan kasus ini dan meminta masyarakat untuk tidak terus menghembuskan rumors dan berspekulasi tentang motif Paddock. Spekulasi masyarakat bisa dipahami, namun tidak membantu sama sekali, ujarnya.

"Saya mengerti itu. Kita semua ingin jawaban," kata McMahill.

Hampir sepekan setelah peristiwa penembakan paling buruk dalam sejarah modern AS itu, pertanyaan terbesar masyarakat memang soal motif si penembak.

Kenapa demikian?

Paddock sendiri telah tewas diduga bunuh diri. Polisi masih mencari orang lain yang mungkin tahu rencana dia sebelum penembakan terjadi, namun polisi juga sudah mengatakan kalau Paddock bertindak sendirian.

Dengan demikian, tidak ada kasus pidana yang bisa dikejar. Kalau pun motifnya diketahui, itu tidak akan bisa menghidupkan kembali mereka yang tewas, atau menyembuhkan lebih dari 500 orang yang cedera.

Lalu apa pentingnya mengetahui motif si pelaku? 

Menurut para pakar spesialis kasus penembakan massal, manfaat dalam memahami motif si pelaku adalah untuk mencegah aksi serupa di masa depan; merevisi kebijakan; dan -- mungkin ini yang paling penting -- memuaskan sifat ingin tahu manusia.

"Semua orang bertanya 'kenapa dia melakukan ini? Apa alasannya?'" kata Jeffrey Simon, pengajar di University of California, Los Angeles, dan penulis buku "Lone Wolf Terrorism: Understanding the Growing Threat."

"Sifat alami manusia adalah berspekulasi dan ingin tahu kenapa sesuatu bisa terjadi," ujarnya.

Menurut Mary Ellen O'Toole, mantan pegawai Biro Penyidik Federal (FBI) dan penulis buku "The School Shooter: A Threat Assessment Perspective," memahami motif pembunuh massal bisa membantu upaya pencegahan serangan berikutnya.

"Saya memilih melihat hal-hal seperti ini sebagai sebuah pembelajaran," ujarnya.

Kebanyakan masyarakat keliru memahami bagaimana para pelaku penembakan ini bisa menjadi radikal. Secara umum sikap radikal itu tidak terjadi secara instan, namun proses yang lambat sampai pada satu titik di mana otak pelaku menganggap orang lain tak lebih dari objek dan alat mencapai tujuan mereka.

Elliot Rodger, yang membunuh enam orang di University of California, Santa Barbara, pada 2014, sebelumnya menulis pernyataan panjang menjelaskan rencananya untuk membunuh "gadis-gadis cantik" dan "orang-orang populer" setelah bertahun-tahun dia selalu menghadapi penolakan dan dilanda rasa iri.

Rodger, 22, menikam tiga teman sekamarnya hingga tewas, lalu menembak mati dua wanita di luar asrama dan seorang pria lainnya. Setelah itu dia menembak membabi buta dan melukai 13 orang, sebelum bunuh diri.

Perubahan Kebijakan
Motif pelaku juga bisa mendorong pihak berwenang mengubah kebijakan di level negara bagian atau nasional.

Contohnya kasus Dylann Roof, yang termotivasi oleh semangat supremasi kulit putih (white supremacist), dia membunuh sembilan orang di Gereja Charleston yang banyak dikunjungi jemaat kulit hitam pada 2015.

Setelah peristiwa itu, sejumlah negara bagian di wilayah selatan AS mulai mengusik keberadaan monumen atau simbol-simbol konfederasi yang dianggap mengagungkan rasisme dan perbudakan. Negara Bagian South Carolina, utamanya, mengesahkan legislasi untuk melarang bendera konfederasi.

"Menurut saya, ini bagian dari sifat manusia," kata Michael Stone, profesor ilmu psikiatri di Columbia University yang telah meneliti ratusan kasus pembunuhan massal.

"Ketika hal mengerikan terjadi, Anda ingin tahu faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebabnya, dan apa ada di dalamnya yang mestinya bisa kita ketahui sebelum terjadi," kata Stone.

Kasus pembunuhan lainnya juga pernah diikuti dengan perubahan kebijakan. Misalnya pasca-kasus pembunuhan massal di SMA Columbine pada 1999, diduga penyebabnya adalah perundungan yang dianggap sebagai akar tindak kekerasan. Berbagai negara bagian kemudian membuat undang-undang anti-perundungan.

Namun ada juga unsur esensial dalam diri manusia yang bisa menjelaskan motif pelaku, kata Stone, penulis buku "The Anatomy of Evil" yang mengulas tentang motif dan cara berpikir para pembunuh paling kejam di dunia.

Menurut Stone, secara umum para pembunuh massal biasanya adalah pria muda yang termotivasi oleh kombinasi sejumlah hal seperti rasa takut berlebihan (paranoia), gangguan mental, atau masalah keuangan dan sosial.

Namun demikian, Paddock tidak masuk tipe yang ini. Dia pensiunan akuntan berusia 64 tahun, punya pacar dan banyak uang untuk dibelanjakan.

Penyidik mengatakan mereka tidak mendapat petunjuk apa pun dari kehidupan sosialnya, masalah keuangan, atau aliran politik yang mungkin bisa menjadi penyebab radikalisasi.

"Dia tidak masuk kategori utama. Karena Paddock tidak termasuk, maka dia lebih menarik perhatian, maka orang-orang mengatakan 'kita harus tahu siapa dia'," kata Stone.

 




Sumber: CNN
ARTIKEL TERKAIT