Peretas Korut Curi 235 GB Rencana Perang AS-Korsel

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un (tengah) melihat perangkat logam di lokasi yang tidak diketahui. Korea Utara telah mengembangkan bom hidrogen yang dapat dimasukkan ke dalam rudal balistik antarbenua. (AFP)

Oleh: Unggul Wirawan / WIR | Rabu, 11 Oktober 2017 | 17:05 WIB

Seoul -  Para peretas Korea Utara (Korut) mencuri ribuan dokumen militer yang memuat rincian rencana perang Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS). Dari dokumen sebanyak itu, Korut juga berhasil mencuri dokumen berisi rencana pembunuhan Kim Jong-un.

Hal itu disampaikan anggota parlemen Korsel Rhee Cheol-hee pada Selasa (10/10). Yonhap melaporkan dia mengatakan informasi tersebut berasal dari Kementerian Pertahanan Seoul. Rhee memang menjabat di komite pertahanan dan merupakan anggota partai yang berkuasa di Korsel.

Sejauh ini, Kementerian Pertahanan Korsel belum mengomentari tuduhan tersebut. Dokumen militer yang disebut sebesar 235 gigabyte, telah dicuri dari Pusat Data Terpadu Pertahanan pada September 2016. Rhee mengatakan 80% informasi tersebut belum diidentifikasi.

"Kementerian Pertahanan Nasional belum mengetahui tentang isi dari 182 gigabyte dari total data (dicuri)," kata anggota parlemen tersebut.

Dokumen-dokumen tersebut dilaporkan mencakup rencana kontinjensi untuk perang, yang dibuat oleh AS dan Korsel. Dokumen juga memuat rincian tentang pembangkit listrik dan fasilitas militer.

Rencana Operasional 5015 adalah protokol terbaru Seoul-Washington untuk perang dengan Pyongyang. Dokumen itu berisi rencana untuk "memenggal kepala" kepemimpinan Korut. Sementara menurut Yonhap, rencana Operasional 3100 menjelaskan bagaimana menanggapi provokasi Korut

Pada Mei, Korsel menyatakan sejumlah besar data telah dicuri dan Korut mungkin adalah pelakunya, walaupun negara tersebut membantah.

Berita soal peretasan tersebut kemungkinan akan menambah ketegangan antara AS dan Korut, karena para pemimpin kedua negara telah saling kecam atas uji rudal Pyongyang baru-baru ini.

The Washington Post melaporkan Presiden AS Donald Trump memberikan perintah untuk Komando Siber AS untuk menargetkan peretas di badan intelijen Korut, Biro Umum Pengintai. Pada awal masa kepemimpinan Trump, lembaga ini menyerang peladen (server) komputer meskipun akses internet Korut tersendat.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT