Militer MyanmarLakukan Perkosaan Sistematis pada Perempuan Rohingya

Para pengungsi warga Rohingya beristirahat setelah menyeberangi sungai Naf dari Myanmar menuju Bangladesh di Whaikhyang, 9 Oktober 2017. (AFP/Fred Dufour)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Senin, 13 November 2017 | 17:56 WIB

Dhaka - Perwakilan khusus Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atas kekerasan seksual dalam konflik, Pramila Patten, menyatakan tentara Myanmar secara sistematis menargetkan pemerkosaan berkelompok atas para perempuan Rohingya selama aksi kekerasan terakhir di Rakhine State.

Patten mengatakan banyak aksi kekejaman atas Rohingya bisa dikategorikan sebagai kejahatan melawan kemanusiaan.Hal itu disampaikan Patten usai mengunjungi distrik sebelah tenggara Cox's Bazar sebagai tempat pengungsian bagi 610.000 warga Rohingya selama 10 minggu terakhir. Dia mengatakan kekerasan seksual di Rakhine State diperintahkan, diatur, dan dilakukan angkatan bersenjata Myanmar.

“Saya mendengar cerita-cerita mengerikan atas pemerkosaan dan pemerkosaan kelompok, dengan banyak perempuan dan gadis yang tewas karena diperkosa,” kata Patten kepada wartawan di Dhaka, Minggu (12/11).

“Pengamatan saya menunjukkan pola kekejaman yang meluas, termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan Rohingya dan gadis-gadisnya yang telah ditargetkan secara sistematis karena etnis dan agama mereka,” tambah Patten.

Menurut Patten, bentuk kekerasan seksual yang secara konsisten didengarnya dari para korban selamat, yaitu dipaksa telanjang di depan umum dan direndahkan, serta dipaksa melakukan perbudakan seksual di kamp militer.

“Salah satu korban selamat menggambarkan ditahan oleh angkatan bersenjata Myanmar selama 45 hari, selama waktu itu dia diperkosa berulang-ulang. Yang lainnya masih memiliki bekas luka, memar, dan luka gigitan untuk membuktikan siksaan itu,” kata Patten.

Aksi mematikan oleh milisi Rohingya pada pos-pos polisi tanggal 25 Agustus 2017 menjadi pemicu tindakan keras oleh militer. Menurut perwakilan PBB itu, pihak lain yang juga terlibat dalam pemerkosaan termasuk polisi perbatasan Myanmar dan milisi yang terdiri dari warga suku Buddha dan kelompok suku lain di Rakhine.

Sampai saat ini, para pengungsi Rohingya masih terus berusaha menyeberang ke Bangladesh untuk mencari perlindungan. Menurut Patten, kekerasan seksual adalah alasan kunci di balik eksodus besar-besaran dan terjadinya penganiayaan kolektif dari Rohingya.

“Meluasnya ancaman dan kekerasan seksual jelas menjadi faktor penggerak dan pendorong atas pemindahan paksa berskala beasr dan dikalkulasikan sebagai alat teror yang bertujuan memusnahkan dan memindahkan Rohingya sebagai sebuah kelompok,” kata Patten.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT